Cengkok - cengkok gambangan Ki Sudarto dalam penggarapan gending gaya Yogyakarta

Teguh, No. Mhs. 798/XX/83 (1988) Cengkok - cengkok gambangan Ki Sudarto dalam penggarapan gending gaya Yogyakarta. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (5MB) | Preview
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (8MB) | Request a copy
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (9MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
BAB IV.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.isi.ac.id/

Abstract

Tugas Akhir berjudul Cengkok-Cengkok Gambangan Ki Sudarto Dalam Penggarapan Gending Gaya Yogyakarta ini mengulas secara terperinci seluruh cengkok-cengkok gambangan Ki Sudarto dalam laras slendro, yang selanjutnya diharapkan pula sebagai langhah awal untuk mengetahui gambangan karawitan gaya Yogyakarta. Ki Sudarto adalah salah satu tokoh karawitan gaya Yogyakarta yang memiliki keahlian cukup memadahi dalam hal menabuh terutama instrumen gambang. Gambang merupakan instruman gamelan Jawa yang peranannya di dalam penyajian _suatu gending tidak kalah penting dengan instrumen lain yang terdapat pada perangkat gamelan Jawa. Jika ditinjau dari bahannya gambang yang terdapat pada perangkat gamelan Jawa dapat dibedakan menjadi dua yaitu gambang gangsa dan gambang kayu. Gambang gangsa adalah salah satu instrumen gamelan Jawa yang bilahnya dibuat dari bahan tembaga (logam), jenis gambang ini hanya terdapat di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Karena kegunaan gambang gangsa ini sangat terbatas, sehingga kurang dikenal oleh masyarakat . Gambang kayu adalah salah satu instrumen yang terdapat pada perangkat gamelan Jawa mempunyai ciri-ciri tersendiri baik jumlah bilah dalam satu rancak, bahan bilah maupun teknik tabuhannya. Dari data yang telah dikumpulkan gambang kayu mempunyai jumlah nada sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) nada atau 3 (tiga) sampai 4 (empat) gembyangan dalam satu rancak.Disebut gambang kayu karena bilahnya dibuat dari kayu, adapun kayu yang baik untuk membuat bilah gambang adalah kayu barleyan dan kayu slanking.Gambang secara tradisi ditabuh pada sajian uyon – uyon garap lirihan dan digunakan pula dalam sajian bentuk lagon bersama-sama dengan instrumen rebab , gender barung dan suling. Gambang S.e1ain. ditabuh pada bentuk sajian tersebut di-tabuh pula dalam sajian karawitan hubungannya dengan seni yang lain seperti:karawitan tari, karawitan pakeliran dan karawitan teater tradisional. Gambangan yang merupakan ritme gambang atau secara sederhana dapat diartikan hasil dari tabuhan gambang, ber­ fungsi sebagai penghias dan pengisi gatra balungan gending. Hal-hal lebih lanjut yang ditekankan dalam penulisan ini adalah cengkok-cengkok gambangannya yang meliputi: Cengkok khusus yaitu cengkok yang digunakan untuk menggarap susunan balungan tertentu misalnya ; (33•• 6532). Cengkok umum yaitu cengkok yang digunakan untuk menggarap balungan gending yang dasarnya dari seleh gatra misalnya dari seleh 3 (dhadha) ke seleh gatra 1 (barang) 3 : 6 5 6 1 • Cengkok gantungan yaitu cengkok yang digunakan untuk menggarap susunan balungan kembar dalam satu gatra balungan gending contohnya 2 2 • • 3 3 • 3 dan lain sebagainya . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen gambang di dalam karawitan Jawa merupakan instrumen yang cukup penting peranannya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Uncontrolled Keywords: cengkok gambangan, Ki Sudarto, gending, gaya Yogyakarta, karawitan
Subjects: Karawitan
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Karawitan
Depositing User: Ida ID Sriwahjudewi
Date Deposited: 18 Dec 2015 07:00
Last Modified: 18 Dec 2015 07:00
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1048

Actions (login required)

View Item View Item