Wayang Golek Menak Yogyakarta Bentuk dan Struktur Pertunjukannya

Dewanto Sukistono, 07/261519/SMU/321 (2013) Wayang Golek Menak Yogyakarta Bentuk dan Struktur Pertunjukannya. Doctoral thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img]
Preview
Text
bab 1 28 WAYANG GOLEK MENAK YOGYAKARTA ( KT015034 l 017.2016 ).pdf

Download (47MB) | Preview
[img] Text
bab 2 28 WAYANG GOLEK MENAK YOGYAKARTA ( KT015034 l 017.2016 )-2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (41MB) | Request a copy
[img] Text
bab 3 28 WAYANG GOLEK MENAK YOGYAKARTA ( KT015034 l 017.2016 )-3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (55MB) | Request a copy
[img] Text
bab 4 28 WAYANG GOLEK MENAK YOGYAKARTA ( KT015034 l 017.2016 )-4.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (64MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
bab 5 28 WAYANG GOLEK MENAK YOGYAKARTA ( KT015034 l 017.2016 )-5.pdf

Download (18MB) | Preview
[img] Text
lampiran 28 WAYANG GOLEK MENAK YOGYAKARTA ( KT015034 l 017.2016 )-6.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (36MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas konsep dasar bentuk, gerak, dan karakterisasi serta perwujudannya dalam pertunjukan Wayang golek Menak Yogyakarta. Di Yogyakarta dan sekitarnya, wayang golek Menak dipopulerkan oleh Ki Widiprayitna, sekitar tahun 1950 sampai 1960-an, satu—satunya dalang wayang golek yang aktif mendalang pada waktu itu. Salah satu faktor yang digemari masyarakat adalah kernampuannya dalam menggerakkan wayang kelihatan hidup, sehingga dijuluki dhalang nuksméng wayang. Konsep dasar tersebut selalu dilandasi dengan prinsip bahwa dalang adalah amanah, dan pekerjaan mendalang merupakan kewajiban menjalankan amanah, bukan untuk mencari uang atau penghasilan. Penelitian ini bersifat multi-disipliner yang terdiri dari dramaturgi pedalangan, metode sejarah, konsep ikonografi, dan phsiognomi, berusaha untuk memaparkan teori yang merupakan konstruksi dari dunia wayang golek Menak Yogyakarta itu sendiri, yaitu dalang dan wujud karya seninya. Studi, penelitian, data—data tertuiis, data rekaman bahkan pertunjukan langsung tentang wayang golek Menak Yogyakarta sampai saat ini sangat jarang ditemukan. Oleh karena itu untuk mengumpulkan data pokok diperoleh melalui observasi dalam bentuk partisipasi terlibat dan wawancara mendalam melalui sumber primer, yaitu Ki Sukarno, putera dan penerus Ki Widiprayitna sebagai dalang wayang golek Menak, serta sumber sekunder yaitu Ki Sudarminta dan Ki Amat Jaelani Suparrnan, bekas murid Ki Widiprayitna. Teknik observasi selaras dengan konsep Hans Georg Gadamer yaitu verstehen is anvenden atau memahami adalah menerapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum struktur pertunjukan wayang golek Menak Yogyakarta masih mengacu pada wayang kulit purwa, tetapi rnempunyai repertoar iringan tersendiri. Ragam gerak wayang golek Menak Yogyakarta selain dipengaruhi wayang kulit purwa juga terinspirasi dari pertunjukan wayang topéng Pedalangan. Kesimpulan yang diperolch menjelaskan bahwa konsep dasar bentuk, gerak dan karakterisasi serta perwujudannya dalam struktur pertunjukan selalu terkait dengan dimensi teknis dan kualitas ekspresi. Totalitas pengungkapan kemapanan teknis dan kualitas ekspresi mampu merubah dirnensi verbal pertunjukan menjadi dimensi imaginatif, sehingga tidak akan nampak Iagi batas yang tegas antara seniman, karya seni, dan penonton.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Uncontrolled Keywords: Bentuk, gerak, karakter, struktur pertunjukan, wayang golek, Menak, Yogyakarta
Subjects: Pedalangan
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Pedalangan
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 12 Oct 2016 03:03
Last Modified: 12 Oct 2016 03:03
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1160

Actions (login required)

View Item View Item