Mengenal Tenun Lrik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) Pedan Klaten

Isbandono Hariyanto, - (2016) Mengenal Tenun Lrik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) Pedan Klaten. BP ISI Yogyakarta, Yogyakarta. ISBN 978-979-8242-96-0

[img]
Preview
Text
Pages from depan.pdf

Download (866kB) | Preview
[img] Text
depan.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Berdasarkan seluruh pembahasan, maka dapat diperoleh kejelasan, bahwa industri tenun lurik ATBM Pedan muncul di era tahun 1942-an sebagai jawaban atas pemenuhan kebutuhan pasar akan kain sebagai bahan dasar sandang dengan produk-produk sederhana seperti surjan, jarik, dan stagen dengan motif-motif tradisional seperti motif kijing miring, Yuyu sekandang, Udan riris, dan Sapit Urang. Hingga saat ini produk tenun lurik yang ada di pasaran sebagian besar masih mengacu pada motif-motif tradisional, namun sudah mengalami pengembangan baik dalam hal tata warna ataupun susunan motifnya. Di era tahun 1965 industri tenun lurik Pedan mengalami masa kejayaan, Pada masa itu industri tenun lurik merupakan salah satu penompang perekonomian masyarakat Pedan dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja, yang berasal dari Kecamatan Pedan dan dari daerah-daerah sekitarnya seperti Cawas dan Ceper. Namun, di era tahun 1980-an, industri tenun lurik Pedan mengalami tanda-tanda penurunan yang dipengaruhi oleh faktorfaktor, diantaranya kejenuhan masyarakat akan produk-produk lurik ATBM yang dianggap sudah ketinggalan zaman. Kebijakan pemerintah untuk membatasi impor benang sebagai bahan baku utama tenun menyebabkan biaya produksi semakin tinggi yang berimbas kepada kenaikan harga jual. Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang mengizinkan masuknya Penanaman Modal Asing (PMA) ke dalam negeri sehingga memunculkan pabrik-pabrik tekstil modern yang memproduksi bahan sandang dengan variasi motif dan warna yang lebih menarik, sehingga menjadikan produk tenun lurik ATBM semakin tersisih. Imbas dari kondisi tersebut adalah banyaknya industri tenun lurik ATBM yang akhirnya gulung tikar karena tak mampu bersaing. Akan tetapi di tengah kemunduran industri tenun lurik Pedan tersebut, masih ada pengusaha tenun lurik ATBM yang mampu bertahan hingga saat ini. Salah satu diantaranya adalah industri tenun lurik Bu Diro dan industri tenun lurik ATBM PT. Sumber Sandang milik Raden Rachmad. Inovasi produk yang dilakukan, serta filosofi back to nature merupakan kunci sukses yang menyebabkan Rachmad mampu bertahan hingga saat ini. Menurut Rachmad, dengan membuat produk-produk yang tidak bisa dibuat dengan mesin modern, ia akan memiliki segmen pasar yang berbeda dengan produk-produk tekstil pabrikan. Oleh karena itulah Rachmad giat berinovasi untuk menggunakan bahan-bahan alam, seperti mèndhong, enceng gondok, akar wangi, dan lidi. Perbandingan penggunaan benang yang merupakan bahan baku impor dengan bahan alam adalah 30% berbanding 70% dengan demikian biaya produksipun bisa ditekan. Di samping itu Rachmad juga menggunakan benang dari serat alam sebagai alternatif penganti benang pakan dan lungsi sebagai media pembuatan produk tenun, seperti benang ulat kedondong, benang dari ulat kopi, serta benang dari ulat sutra. Selain penggunaan bahan baku alam Rachmad juga banyak menggunakan bahan pewarna alam yang merupakan hasil pengolahan dari tanaman di lingkungan sekitar, seperti biji buah mengkudu, daun teh, kayu akasia, mahoni, kayu teger, dan kulit pohon mangga. Penggunaan bahan baku dari alam tersebut menjadikan produk-produknya banyak diminati oleh konsumen terutan konsumen dari luar negeri yang lebih menyukai produk-produk yang berasal dari alam yang aman untuk kesehatan. Selain menggunaan bahan baku alam Racmad juga giat melakukan diversifikasi produk sehingga produknya tidak hanya terbatas pada bahan kain lurik, namun juga pada produk non-sandang seperti bahan interior dan aksesori busana seperti tas dan sepatu. Keberhasilan Rachmad bisa tetap bertahan hingga saat ini, selain ditentukan oleh faktor internal yaitu kemampuan dari pengusaha dalam mempertahankan industrinya, juga sangat ditentukan oleh faktor-faktor eksternal seperti pasar dan kebijakkan pemerintah yang mendukung keberadaan industri kecil.

Item Type: Book
Uncontrolled Keywords: kriya, industri, kain, tenun, UKM
Subjects: Kriya > Kriya Tekstil
Divisions: Fakultas Seni Rupa > Jurusan Kriya > Kriya Tekstil
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 31 Oct 2016 07:14
Last Modified: 31 Oct 2016 07:14
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1164

Actions (login required)

View Item View Item