Krontjong Toegoe

Victorius Ganap, 19480616198003 1 001 (2011) Krontjong Toegoe. In: Krontjong Toegoe. BP ISI Yogyakarta, Yogyakarta. ISBN 978-979-8242-24-3

[img]
Preview
Text
Pages from Buku Krontjong Toegoe.pdf

Download (684kB) | Preview
[img] Text
Buku Krontjong Toegoe.pdf
Restricted to Registered users only

Download (4MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
Krontjong Toegoe.pdf

Download (365kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Poster Krontjong Toegoe.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Melalui paparan dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. musik keroncong indonesia memiliki unsur musik portugis abad keenambelas yang dipengaruhi budaya islami bangsa moor dari afrika Utara yang masuk dan berkembang di portugal, antara lain dalam bentuk lagu dan tarian yang dikenal dengan sebutan Moresco. perjanjian Tordesillas dengan Spanyol pada tahun 1494 membuka jalan bagi portugis melakukan pelayaran ke timur melalui cape Verde di Samudera atlantik, tanjung pengharapan Baik di afrika Selatan, Bab el mandeb di jazirah arab, hingga mencapai Goa di india Depan, coromandel dan Bengali di india Belakang, lalu memasuki asia tenggara melalui arakan di Birma, semenanjung malaka, Sunda kalapa, hingga kepulauan maluku lalu terus ke utara, hingga ke jepang dan cina di asia timur. Selama lebih dari seabad sejak tahun 1513, portugis telah menanamkan pengaruh agama dan budayanya di maluku dan Flores yang peninggalannya masih dapat ditemukan saat ini. musik portugis juga pertama kali diperkenalkan di maluku melalui para misionaris portugis, yang diterima dengan baik oleh penduduk pribumi. peninggalan musik portugis dari abad keenambelas juga masih dapat ditemukan saat ini di maluku dan halmahera. melalui lagu Moresco dan Cafrinho, musik portugis abad keenambelas juga ditemukan pada komunitas tugu di kampung tugu sejak tahun 1661. masuknya musik portugis abad keenambelas dari maluku ke kampung tugu dibawa oleh para laskar portugis asal Goa yang bertugas di pulau Banda bersama keluarga mereka orang pribumi Banda. mereka merupakan orang pelarian dari Banda ketika pulau itu diserbu oleh Voc pada tahun 1620-an. Dalam pelarian itu kapal mereka rusak dan karam di pantai cilincing. mereka ditangkap Voc lalu dibebaskan setelah berpindah agama sesuai perjanjian. mereka menjadi orang merdeka dan dibuang ke kampung tugu. mereka adalah pemukim pertama yang mendiami kampung tugu. letak kampung tugu yang terisolasi telah mendorong mereka untuk menghidupkan kembali musik portugis melalui lagu Moresco dan Cafrinho dengan iringan alat musik buatan mereka sendiri yang disebut keroncong, sebagai prototype dari cavaquinho, alat musik portugis abad keenambelas yang dibawa para pelaut dari portugal. perjalanan panjang cavaquinho dilakukan dengan mengikuti pelayaran para pelaut portugis hingga ke pulau Banda dan kampung tugu. model cavaquinho dibuat kembali para pengrajin di kampung tugu asal Banda dengan sebutan keroncong, karena menghasilkan bunyi ‘crong’. namun popularitas cavaquinho yang kemudian mendunia berawal dari hawaii pada abad kesembilanbelas ketika instrumen itu dinamakan ukulele. Di kampung tugu para pemukim itu membentuk sebuah komunitas kristiani berbahasa portugis cristão. Selain berbahasa cristão, ditemukannya lagu Moresco asal moor, dan alat musik cavaquinho asal portugal menjadi dasar kesimpulan bahwa mereka adalah orang portugis. munculnya nama keluarga seperti Quiko, de Sousa, michiels, cornelis, dan keahlian membuat alat musik, serta ditemukannya lagu Cafrinho asal Goa, menjadi dasar kesimpulan bahwa mereka adalah campuran orang Goa dan Banda. penelitian ini menamakan mereka sebagai komunitas tugu, komunitas yang telah melahirkan musik keroncong di kampung tugu sejak abad ketujuhbelas. penelitian ini menyimpulkan bahwa tekstur lagu keroncong Moresco atau Kr. Moritsku identik dengan fado portugis Camélias dan Folgadinho sebagai pengiring tarian Moresco, melalui alur melodi bermotif kromatik neighbouring note, vokalis bersuara nasal dengan ekspresi coração, syair bernada melankolik, dan penggunaan instrumen ukulele. Krontjong Toegoe menyebar ke kampung Bandan yang dihuni kelompok etnik asal Banda, dan melalui lagu Prounga melahirkan Krontjong Bandan. Krontjong Toegoe kemudian menyebar ke Batavia melalui lagu hindia Belanda Oud Batavia. Krontjong Toegoe ditiru oleh kelompok pemusik Krokodilen indo-Belanda di kemajoran dan melahirkan Krontjong Kemajoran. istilah ‘buaya keroncong’ berasal dari sepak terjang kelompok pemusik Krokodilen yang tidak terpuji. Genre generik Krontjong Toegoe adalah seni iringan (the art of accompaniment) sebagai musik pengiring vokal atau tarian. tekstur lagunya bersifat monodik, dengan struktur melodi yang simetrik dalam not seperdelapan (quaver), progresi harmoni i-iV-V7, dengan syair berbentuk pantun. Sebagai pengiring vokal Krontjong Toegoe menampilkan biola sebagai pembawa melodi atau melodic filler, ukulele pembawa rhythmic riff, gitar pembawa harmoni, cello pembawa bas pizzicato, dan rebana pembawa pulsa (time beater). Sebagai pengiring tarian pergaulan, Krontjong Toegoe tampil dalam format pot-pourri menurut durasi yang diinginkan. repertoar Krontjong Toegoe terdiri dari lagu portugis cristão, lagu hindia Belanda, dan lagu Daerah indonesia. Krontjong Toegoe tumbuh dan berkembang menjadi musik hiburan masyarakat perkotaan yang dinamakan musik keroncong dalam bentuk langgam keroncong, Stambul, dan ‘keroncong asli’. musik keroncong kemudian menyebar dari Batavia ke Bandoeng, Semarang, Djogdjakarta, Soerakarta, dan Soerabaja, selanjutnya ke makassar dan ambon. musik keroncong mengalami reaktualisasi pada setiap kota menurut gaya lokal tanpa kehilangan jatidirinya. Krontjong Toegoe dapat bertahan selama lebih dari tiga abad karena mampu menghimpun dana (income generating) melalui dukungan masyarakat (communal support) hindia Belanda sebagai seni baru (ars nova) yang digemari masyarakat perkotaan. komunitas tugu memiliki jiwa dan semangat kewirausahaan (entrepreneurship) dalam menjajakan pertunjukan barangan, dan keahlian (craftmanship) dalam pembuatan alat musik. prospek Krontjong Toegoe cukup berpeluang dalam menghadapi perubahan zaman karena telah membuktikan ketahanannya sebagai ars nova sejak abad ketujuhbelas. revitalisasi dilakukan melalui pengenalan pola ritmik congrock, congdut, congjazz dalam memenuhi selera masyarakat. Secara khusus musik Krontjong Toegoe dapat menjual keunikan jatidiri dan latar belakang sejarahnya yang multikultural. Dukungan multinasional dapat diharapkan melalui peranan historis pada masa kolonial dan repertoarnya yang multilingual. Banyaknya media cetak dan elektronik dalam dan luar negeri yang selama ini meliput berbagai aspek seputar Krontjong Toegoe membuktikan kekuatannya sebagai sumber informasi yang diminati dengan daya tariknya yang tidak pernah memudar. musik keroncong dalam bentuk strophic composed langgam keroncong tetap hidup dan berkembang karena memperoleh basisnya yang kokoh di Surakarta melalui lagu- lagu langgam yang diciptakan oleh Gesang. Demikian pula bentuk through-composed ‘keroncong asli’ tumbuh dan berkembang menjadi bentuk keroncong yang baku sebagai musik khas indonesia setelah memperoleh gedugan jawa melalui lagu-lagu keroncong ciptaan kusbini. Sementara itu, perjalanan sejarah bentuk entr’acte Stambul keroncong yang menjadi piatu terbukti tidak mampu bertahan tanpa kehadiran ‘buaya keroncong’ lainnya. perjalanan sejarah bentuk keroncong lainnya juga menunjukkan bahwa tanpa berakar di masyarakat bentuk Keroncong Beat tidak akan dapat berkembang. Sebaliknya dengan dukungan jiwa dan semangat komunitasnya, musik Krontjong Toegoe ingin terus hidup di kampung tugu meski telah melahirkan musik keroncong pada tingkat nasional. penelitian ini juga menyimpulkan bahwa musik keroncong tidak akan punah karena secara koletif telah menjadi milik bersama seluruh bangsa yang kehidupannya dilindungi oleh negara dan masyarakat. Selain itu, faktor psikologis dari kelembutan lagu dan syair keroncong secara individual menjadi supplement yang cocok dengan kebutuhan setiap manusia lanjut usia. Dari waktu ke waktu akan selalu muncul penggemar baru yang beralih ke musik keroncong setelah jenuh dengan hingar bingar musik rock di usia muda. melalui modifikasi di sana sini, musik keroncong akan selalu tampil segar (evergreen), yang diyakini bahwa kesegaran itu juga akan dirasakan oleh setiap penikmat keroncong. Saatnya pemerintah melalui kementerian kebudayaan dan pariwisata membangun sistem kearsipan Arquivo Portugués Oriental untuk menyelamatkan berbagai artefak dan kekayaan nilai intangible heritage Krontjong Toegoe, dengan segala keunikan latar belakang sejarah kehadiran komunitas dan musiknya, agar terhindar dari kepunahan. Saatnya pemerintah Dki jakarta membangun museum dan sanggar Krontjong Toegoe sebagai pusat penelitian dan pengembangan musik keroncong bagi para peneliti; studio musik keroncong bagi para pemusik; dan sebagai objek wisata budaya dan sejarah jakarta tempo doeloe. Saatnya generasi muda tugu dan para pemusik Krontjong Toegoe menyadari akan tugas dan kewajiban mereka untuk melaksanakan amanah para leluhur dengan memelihara berbagai nilai tradisi kampung tugu yang diwariskan kepada mereka; tegar menghadapi derasnya arus komersialisasi dan daya tarik musik populer; bahwa mereka merupakan generasi penerus yang pada gilirannya akan menerima tongkat estafet dari para sesepuh tugu sebagai pelaku sejarah. Saatnya Sinode Gereja tugu menoleh dan bercermin pada sejarah dibangunnya gereja itu dalam menetapkan kebijakan terhadap Gereja tugu; bertanggungjawab terhadap pembinaan keimanan kristiani para warga tugu, serta menjamin partisipasi komunitas tugu dalam keanggotaan organisasi Gereja tugu. pada dasarnya Gereja tugu harus tetap menjadi bagian yang integral dari keberadaan komunitas tugu yang tergabung dalam ikatan keluarga Besar tugu (ikBt), dan keberlangsungan musik Krontjong Toegoe sebagai pusaka warisan leluhur mereka.

Item Type: Book Section
Uncontrolled Keywords: seni, pertunjukan, musik, keroncong
Subjects: Musik > Komposisi Musik
Musik > Penyajian musik (musik pertunjukan dan pop-jazz)
Musik > Pengkajian seni musik (musikologi dan pendidikan musik)
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Musik
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 21 Nov 2016 04:10
Last Modified: 21 Nov 2016 04:10
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1183

Actions (login required)

View Item View Item