Pergelaran Wayang Kulit Purwa Lakon Duryudana Gugur di Perpustakaan RI Jakarta Dalam Rangka Festival naskah Nusantara 17 September 2015

Kasidi Hadiprayitno, NIP. (2015) Pergelaran Wayang Kulit Purwa Lakon Duryudana Gugur di Perpustakaan RI Jakarta Dalam Rangka Festival naskah Nusantara 17 September 2015. [Video]

[img] Video
DVD1.avi

Download (4GB)
[img] Video
DVD2.avi
Restricted to Repository staff only

Download (4GB) | Request a copy
[img] Video
DVD3.avi

Download (4GB)
Official URL: http://lib.isi.acid

Abstract

Sekelumit tentang Bharatayudha, istilah ini muncul sebagai hasil karya sastra besar pada jaman Kadhiri tahun 1079 atau tahun 1157 Masehi. Terkenal dengan sengkalannya Sangakuda suddha sandrama, Penulisnya adalah seorang pujangga namanya Mpun Sedhah dan Panuluh. Mengapa ditulis oleh Dua orang, Mpun Sedhah mengawali dari Kresna duta sampai dengan Salyawada atau Salya gugur. Kemudian dilanjuytkan oleh Panuluh dari bagian kecil Salyawada sampai dengan wafatnya Duryudana (Poerbatjaraka, 1954: 24-25). Adapun edisi Sutjipto Wirjasuparto (1968) ditulis dalam bentuk kakawin berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Radyomardowo (1950) pernah menulis Serat Baratajuda, sekaligus buku ini sebagai dasar pergelaranwayang kulit purwa tradisi gaya Yogyakarta di Kangungan Dalem Gedung Sasana Hinggil Dwi Abad tahun 1958, hingga saat ini pergelarannya masih dilakukan secara rutin setiap bulan minggu kedua, disiarkan langsung oleh RRI Yogyakarta, dengan demikian pergelaran tersebut sudah berjalan selama 59 tahun. Terdapat juga di luar yang tercatat itu adalah keinginan masyarakat tertenti yang masih sering menanggap wayang berbasis perang Bharatayuda ini, misalnya di wilayah Klaten setiap nyadranan pastilah banyak di pedesaan menggelar lakon-lakon tersebut, di samping itu juga masih terdapat tradisi nanggap wayang di desa-desa berkaitan dengan rasulan, bersih desa, majemuk umum, dhekahan gedhen dan sebagainya yang masih melesatriakan nanggap brantayuda. Sinopsis Duryudana Gugur Dikisahkan perang Bharatayuda sudah berlangsung selama 17 hari, yaitu perang antara Korawa melawan Pandhawa. Banyak korban prajurit dari kedua belah pihak termasuk para senopati utamanya, seperti Bhisma, Durna, Karna, dan sebagainya di pihak Korawa, sedangkan di pihak Pandhawa telah mati di medan laga seperti Abimanyu, Gathutkaca, Irawan, Gandawerdaya, dan lain sebagainya. Duryudana pada hari ke 17 mempercayakan kepada Prabu Salya menjadi panglima perang. Usaha inipun mengalami kegagalan Prabu Salya harus terbunuh di tangan Yudhisthira. Begitu pun Patih Sengkuni berusaha bela pati atas wafatnya Salya. Kehebatan Sengkuni tidak mampu menandingi kesaktian Bima Sena. Duryudana akhirnya meju ke medan laga tepat di hari yang ke delapan belas, maka terjadilah perang tanding dengan Bima Sena. Kedunya menggunakan senjata gada, dan memang kesaktiannya di atas manusia biasa sehingga pertempurannya berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Bima Sena berhasil memukul paha kiri Duryudana sehingga jatuh tertelungkup, kemudian disusul digempur kepalanya oleh Bima. Akhirnya raja angkara murka itu binasa di tangan Bima Sena.

Item Type: Video
Uncontrolled Keywords: seni, pertunjukan, pedalangan, wayang, duryudono, kasidi hadiprayitno
Subjects: Audio Visual
Pedalangan
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Pedalangan
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 26 May 2017 06:27
Last Modified: 26 May 2017 07:20
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1678

Actions (login required)

View Item View Item