Teater Bagi Kaum Tertindas (Augusto Boal) judul asli Theatre of the Oppressed

Yudiaryani, Penterjemah and Augusto Boal, penulis asli (2016) Teater Bagi Kaum Tertindas (Augusto Boal) judul asli Theatre of the Oppressed. ISI Yogyakarta, Yogyakarta.

[img] Text
TEATER BAGI Kaum Yang Tertindas.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (16MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
Pages from TEATER BAGI Kaum Yang Tertindas.pdf

Download (844kB) | Preview
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Buku ini bertujuan mengungkapkan bahwa semua teater sebenarnya politik, karena semua aktivitas manusia adalah politik dan teater adalah salah satu di antaranya. Mereka yang berusaha memisahkan teater dari politik akan menggiring kita pada kekeliruan–dan inilah watak politik. Buku ini juga menunjukkan beberapa bukti bahwa teater adalah senjata, senjata yang efisien untuk menyampaikan dan menerima gagasan eserta ideologi di dalamnya. Untuk alasan tersebut, seseorang bertarung mendapatkannya, kelas penguasa bersikeras pula mempertahankan teater secara permanen, dan menggunakannya sebagai alat dominasi. Bahkan mereka mengubah konsep tentang “teater”. Namun teater juga dapat menjadi alat pembebasan dan perubahan sehingga perlu mencipta bentuk-bentuk teater yang tepat. Perubahan adalah keharusan. Buku ini mengungkapkan berbagai perubahan mendasar serta bagaimana masyarakat menerimanya. Dahulu kala, teater adalah orang-orang yang menyanyi dengan bebas di tempat terbuka, pertunjukan teatrikal dicipta oleh dan untuk masyarakat, sehingga teater merupakan lagu ditirambik. Lagu ini merupakan perayaan di mana semua orang ikut serta dengan bebas. Kemudian datang kaum aristokrat dan melakukan pembagian-pembagian di mana beberapa orang naik ke atas panggung dan hanya mereka yang diijinkan berperan; sisanya tetap duduk menonton, menerima secara pasif–bagian ini lah yang akan menjadi penonton, orang banyak. Dalam rangka menunjukkan bahwa spektakel secara efisien mencerminkan ideologi yang dominan, kaum aristokrat memantapkan bagian lain, yaitu beberapa aktor menjadi protagonis (aristokrat) dan sisanya adalah kor–simbolisasi orang banyak. Sistem kekerasan tragedi Aristoteles bergerak dan teater menjadi suatu sistem kekerasan. Kemudian datang kaum borjuasi dan mengubah protagonis tersebut. Mereka berhenti menjadi objek yang mewadahi nilai-nilai moral, suprastruktur, dan menjadi subjek multi dimensi, pribadi eksepsional, terpisah dari masyarakat kebanyakan, sama seperti aristokrat baru–ini lah puitika virtù Machiavelli. Bertold Brecht bereaksi terhadap puitika tersebut dengan mengambil sang tokoh yang diteorikan oleh Hegel sebagai subjek absolut dan mengembalikannya menjadi objek. Namun sekarang, sang tokoh menjadi objek kekuatan sosial bukan cerminan nilai dari suprastruktur. Sosial menguasai pikiran, dan bukan sebaliknya. Apa yang hilang dari keutuhan lingkaran ini adalah apa yang terjadi saat ini di Amerika Latin. Penghancuran batas itu diciptakan oleh kelas penguasa. Pertama, batas antara aktor dan penonton dihancurkan; semua harus beraksi, semua harus menjadi protagonis untuk mengubah bentuk masyarakat. Ini adalah proses yang saya gambarkan dalam “Eksperimen dengan Teater Rakyat di Peru.” Kemudian batas antara protagonis dan kor dihancurkan. Secara simultan, semua menjadi kor dan protagonis–inilah sistem “Joker”. Maka kita sampai pada puitika bagi (kaum) yang tertindas, pengambil alihan alat produksi teatrikal.

Item Type: Book
Uncontrolled Keywords: Teater, pertunjukan
Subjects: Teater > Penciptaan (penyutradaraan, penataan artistik, penulisan naskah,pemeranan)
Teater > Pengkajian seni teater (dramaturgi)
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Teater
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 29 May 2017 06:16
Last Modified: 29 May 2017 06:16
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1695

Actions (login required)

View Item View Item