Fungsi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) Bagi Pementasan Teater Modern Yogyakarta

Yudiaryani, Ketua and Nur Iswantoro, Anggota and Koes Yulia, Anggota (1997) Fungsi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) Bagi Pementasan Teater Modern Yogyakarta. [Experiment]

[img]
Preview
Text
Fungsi Festival Kesenian Yogyakarta.pdf

Download (3MB) | Preview
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Suatu hal yang menarik dari analisis di atas adalah bahwa pada tataran hirarki sibernetika, urutan fungsional terdiri dari Latensi, Integrasi, Pencapaian, Adaptasi. Urutan dimungkinkan berubah, oleh karena dari pelaksanaannya tampak bahwa unsur kebijaksanaan panitia pusat sangat kuat mempengaruhi kreativitas seniman. Pada saat tema “Teater Total” digulirkan, seniman penyaji berusaha meresponnya. Demikian juga saat panitia membebaskan tema sajian sesuai dengan kondisi zaman, seniman merespon dengan menyajikan garapan yang sesuai dengan kondisi. Tampaknya tak ada penolakan dari seniman. Hanya seniman ingin mendapat penjelasan lebih rinci dari panitia tentang tema tersebut. Situasi demikian menunjukkan bahwa seniman dengan komunitas serta ideologi yang disandangnya mampu menyesuaikan diri terhadap keinginan yang kuat dari panitia. Pengaruh dari kekuasaan dapat dipahami dengan integritas yang tinggi dari seniman. Meskipun dalam pembicaraan awal antara panitia dan seniman tentang visi festival sering menjadi ajang perdebatan yang “ramai”. Hal ini disebabkan seniman telah mengetahui posisinya sebagai objek, sehingga mereka melakukan penawaran kepada panitia tentang dana, tempat, dan waktu. Akhirnya, seperti pada FKY yang lalu, seniman “mengalah” dan mengikuti apa yang diinginkan panitia. Namun dari analisis konsep sinkretis estetis, terjadi suatu penawaran positif dari seniman. Kondisi kejatuhan Soeharto memberi inspirasi mereka untuk “menawar” tema yang ingin mereka garap. Untuk itu panitia kemudian membebaskan tema penyelenggaraan. Hasilnya adalah mereka menggarap tema yang variatif, bahkan tempat dan tanggal pementasan pun mereka sesuaikan dengan keinginan mereka. Aspek kognitif sebagai unsur adaptasi memiliki energi yang terbesar.Dibandingkan dengan hirarki LIPA, hirarki APIL memiliki kecenderungan konflik lebih besar. Dalam hirarki ini, pengaruh kekuasaan sangat jelas terlihat. Hal ini seperti yang disinyalir oleh Dahrendorf bahwa konflik pun akan muncul. Namun dengan pemikiran bahwa konflik merupakan proses penyesuaian bagi suatu keberhasilan, maka panitia “mengalah” demi kebutuhan kreativitas seniman.Hirarki Sibernetika dalam sosiologi fungsionalisme Parsons membuktikan bahwa struktur sistem sosial dalam penyelenggaraan FKY mengalami pembalikan dari apa yang dinyatakan Parsons. Kembali pada pertanyaan di awal artikel ini: Apakah sejak awal berlangsungnya FKY, peristiwa ini telah menghasilkan suatu karya unggulan khas Yogyakarta yang mampu menyebar ke tingkat nasional maupun internasional? Apakah masyarakat ikut melibatkan diri berperan aktif menyangga kelestarian nilai-nilai luhur kesenian Yogyakarta? Jawabannya adalah apabila FKY ingin menghasilkan karya unggulan, maka unsur kognitif dari seniman harus lebih diutamakan. Konsep kerja APIL dapat dicoba untuk dilaksanakan. Seniman harus diberi pemahaman tentang manfaat FKY. Selama ini konsep penguasa dan yang dikuasai menjadi dasar penyelenggaraan FKY, sehingga seolah-olah FKY adalah milik penguasa yang notabene adalah birokrat kesenian. Sedangkan dari analisis di atas diketahui bahwa representasi zaman dan solusinya hanya dapat dilakukan oleh seniman melalui karya-karyanya. Sinkretisme estetis menyatukan antara seni dan masyarakat.Sepanjang struktur LIPA berlangsung dalam peristiwa FKY, keinginan untuk melibatkan seniman dan masyarakat pada FKY, serta mencuat karya-karya seni unggulan akan mengalami kegagalan. Namun dengan mendudukkan FKY dalam skema APIL diharapkan FKY akan menjadi ajang kreativitas seniman dan masyarakat, serta FKY akan menjadi kebanggaan Yogyakarta yang dikenal sebagai kota budaya, pelajar, dan pariwisata.

Item Type: Experiment
Uncontrolled Keywords: teater, FKY, pariwisata, Festival kesenian Yogyakarta
Subjects: Teater > Penciptaan (penyutradaraan, penataan artistik, penulisan naskah,pemeranan)
Teater > Pengkajian seni teater (dramaturgi)
Karya Dosen
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 08 Jun 2017 01:03
Last Modified: 08 Jun 2017 01:03
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1794

Actions (login required)

View Item View Item