Konvensi Pertunjukan Teater: Di Antara Gagasan-Panggung-Penonton

Yudiaryani, - (1998) Konvensi Pertunjukan Teater: Di Antara Gagasan-Panggung-Penonton. In: Pendidikan Dasar VIII Teater , Teater Lobby-Dua STPMD “APMD”Yogyakarta, 20 November 1998, Yogyakarta.

[img]
Preview
Text
Konvensi Pertunjukan Teater.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Akhir-akhir ini muncul suatu gagasan tentang bentuk pertunjukan monolog. Berbicara tentang monolog, persoalan keaktoran/pemeranan pasti akan mengemuka. Di saat perkembangan teater sudah melalui tahapan yang begitu kompleks, muncul suatu kegamangan bagi seniman. Hiruk pikuk estetika penggarapan seni dengan batasan yang mulai mengabur, kompleksitas komunikasi antar seniman yang rentan dengan perpecahan, kesengkarutan antara idealisme dan konsumerisme antara seniman dan penonton, menyebabkan seniman, khususnya teater, memandang kembali awal mula fungsi dan tujuan berteater. Pemahaman tentang ‘kembali’ pada akar teater, berarti kembali kepada salah satu esensi pertunjukan, yaitu upacara. Pada masa sebelum masa Yunani Klasik, misalnya, pendeta menjadi tokoh sentral jalannya upacara. Ia merupakan manifestasi pemujaan manusia pada sang Penguasa. Di dalam diri sang pendeta terangkum kekuasaan tubuh manusia yang dipercaya pula mewakili roh sang Penguasa. Kemudian, ketika Thespis, salah satu anggota koor dalam drama Yunani, menjadi aktor yang berdialog dengan koor, maka dimunculkanlah konflik-konflik yang bersifat dramatis dan eksistensialis. Manifestasi seorang aktor adalah manusia dengan tubuh-pikiran dan batinnya, sedangkan aktor lain berlaku sebagai antagonitas diri sang aktor. Sedangkan, sang penulis mewakili sisi lain dari sang Penguasa. Jadilah ia kemudian sebagai sutradara, dan terkadang mengejawantah menjadi sang aktor sendiri. Konvensi semacam itu menjadi rumit ketika imajinasi seniman menuntut memperlebar ‘ruang’ dirinya. Seniman mulai berusaha memahami kembali dirinya, kemampuan dan kemungkinan perkembangannya. Estetika panggung berusaha lebih memperluas ‘ruang’ namun memperpendek ‘waktu’ garapan. Diantaranya, bagian objek yang tersentuh menjadi minimal, namun gagasan di dalamnya mengandung makna yang maksimal dan subjektif. Seniman mulai cenderung berpihak pada esensi panggung, dan melupakan segala macam konsep keteraturan dan kepastian konvensi. Mamahami esensi seyogyanya kita terbiasa menghargai ‘yang lain’, dan mengurangi kecenderungan sewenang-wenang dengan membuat suatu standar interpretasi subjektif. Dalam perteateran, konsep tentang esensi tercermin melalui kecenderungan seniman berpentas tunggal atau yang sering disebut dengan monolog, mono play, one man play. Sebuah naskah monolog dicipta pengarang dengan tujuan dimainkan di atas panggung. Pada awalnya monolog atau monologue merupakan bagian dari sebuah naskah drama yang menampilkan seorang pemain bercakap seorang diri menyampaikan pikiran dan perasaannya, bahkan terkadang sedang dalam kondisi berdialog dengan tokoh lain. Namun dalam perkembangan waktu, istilah monolog mendapat ‘tandingan’ pengertian melalui istilah mono play, one man play, one man show, serta teater tunggal. Akibatnya, konvensi monolog yang kita pahami saat ini kemudian harus didudukkan kembali, dan harus berdialog dengan istilah-istilah tersebut yang sebenarnya merupakan usaha seniman membuka ‘ruang’ dalam bentuk monolog. Elemen-elemen pemanggungan pun berusaha diangkat ke permukaan agar memiliki harkat dan martabat yang setara. Maka, penjelajahan wacana monolog pun tidak semata persoalan estetika, namun juga etika penyetaraan, penampilan dan penghargaan terhadap elemen pendukung panggung. Monolog berasal dari bahasa Yunani monos dan logos. Selama ini ada anggapan bahwa monolog berbeda dengan mono play. Logos yang berarti percakapan melalui kata-kata pun diganti dengan play, permainan. Play lebih diartikan sebagai permainan bersama spektakel yang berlandaskan pada penyutradaraan, pemeranan, dan penataan artistik. Namun, apabila kita menterjemahkan kembali kedua kata logos dan play, maka kita akan menemukan bahwa keduanya mengandung pengertian tentang dialog. Dialog antar istilah pun bergeser fungsinya menjadi ajang penyadaran. Wilayah pandang-dengar-gerak teater setara dan dihargai sama dengan pikir-tulis-citraan sastra. Wilayah panggung yang bersifat konkret ditampilkan bersama dengan sifat abstraknya. Maka panggung monolog–apabila kita kembali pada istilah dasarnya–adalah sintesis dari yang konkret dan yang abstrak, yang partikular dengan yang universal, tubuh-pikiran-batin, spektakel. Apabila saat ini marak pertunjukan monolog, apa yang dapat kita amati dari fenomena tersebut?. Pertama, silang sengkarut persoalan kesenian menyebabkan kita mencari penyederhanaan yang memberi ruang bagi permenungan, kontemplasi. Hal ini menjadi salah satu cara menghindari konflik yang terkadang telah mempribadi. Kedua, seniman kembali kepada fitrahnya yaitu menghasilkan sebuah karya seni individual. Eksplorasi dan eksperimen secara individu diharapkan menghasilkan etos kerja yang dihasilkan oleh laboratorium-laboratorium kesenian. Hal ini merupakan usaha mengubah prinsip dan substansi untuk menyesuaikan dan mempertahankan diri di era globalisasi. Dengan kata lain, kembali ke monolog berarti kembali memahami diri sendiri, apa yang diinginkan, visi dan etos kerja, serta semangat yang tak pernah padam dalam diri seniman. Ketiga, budaya kolektif atau yang sering disebut sebagai budaya nasional mulai dipertanyakan. Kriteria nasional sering diartikan sebagai usaha pemusatan, sehingga pemahaman monolog sebagai karya individual adalah dalam rangka mengedepankan otonomi individu, minoritas, keterpinggiran, yang lain. Keempat, pertunjukan monolog menjadi strategi menejemen dana dan struktur kerja: dana lebih mudah ditekan, sosialisasi berlangsung lebih efektif dan efisien, serta mis-komunikasi personal dapat lebih teratasi. Monolog tidak sekedar percakapan tunggal, tetapi sekaligus perancangan tunggal yang diharapkan mampu men-dialog-kan berbagai unsur pertunjukan.

Item Type: Conference or Workshop Item (Speech)
Uncontrolled Keywords: Pertunjukan Teater
Subjects: Teater > Penciptaan (penyutradaraan, penataan artistik, penulisan naskah,pemeranan)
Teater > Pengkajian seni teater (dramaturgi)
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Teater
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 08 Jun 2017 01:26
Last Modified: 08 Jun 2017 01:26
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/1801

Actions (login required)

View Item View Item