Penciptaan Perhiasan Perak Kotagede Motif Sulur Gelung

Nizam, Akhmad (2024) Penciptaan Perhiasan Perak Kotagede Motif Sulur Gelung. [Video]

[img] Text
Link Video Karya Akhmad Nizam.pdf

Download (33kB)
Official URL: https://drive.google.com/drive/folders/1bqvGr_I733...

Abstract

Kotagede Yogyakarta merupakan salah satu bekas pusat peradaban Kesultanan Mataram Islam. Kotagede memiliki banyak aset cagar budaya seperti gaya arsitektur yang memiliki filosofi dan mencerminkan sejarah lokal [1]. Memiliki keunggulan kompetitif sebagai tujuan wisata. Memiliki komunitas lokal yang berkontribusi dalam melestarikan struktur lama dan mendorong pertumbuhan ekonomi [2]. Disamping itu produk perak Kotagede berhasil memberi ciri identitas khas Yogyakarta. Krisis ekonomi tahun 1990-an berdampak buruk pada produk perak Kotagede, yaitu masalah bahan baku dan pemasaran. Mahalnya harga bahan baku tidak diimbangi dengan banyaknya permintaan, mengakibatkan pendapatan berkurang. Wisatawan mancanegara yang menjadi konsumen utama juga berkurang kuantitasnya. Hal ini memicu terjadinya ketidakseimbangan permintaan dan penawaran. Di samping itu generasi mudanya tidak lagi berminat menekuni usaha perak, desain produk perak tidak berkembang, buruknya manajemen pemasaran dan timbulnya konflik antar pedagang perak. Oleh karena itu perlu diciptakan kriya berbasis kebangsaan karena dapat memberi kesegaran dalam menafsir produk yang berbasis pada identitas budaya. Langkah strategis agar perak Kotagede dapat adaptif dan relevan dengan budaya kekinian, dapat ditempuh dengan mengawinkan ornamen sulur gelung yang menjadi penciri identitas budaya atau inti jiwa seni Nusantara ke dalam produk perhiasan perak. Berdasarkan riset penulis ada ornamen yang menjadi kelangenan atau candu yang terus menerus diperagakan dan diulang-ulang polanya yaitu motif ukel. Motif ukel selalu muncul sejak masuknya pengaruh Hindu India sampai pada masa Kesultanan Islam. Dalam fesyen misalnya terdapat ukel konde, lengkung ukel menjadi riasan wajah, riasan ujung rambut Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Motif ukel dalam arsitektur berupa umpak dan berbagai ukiran pada kaki dan dinding candi. Motif ukel ini digubah atau sumber inspirasinya adalah teratai, bentuknya dibuat bergulung-gulung. Gulungan teratai ini kemudian disebut ornamen sulur gelung. Sulur gelung teratai inilah yang menjadi monad inti jiwa seni Nusantara. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ide dan konsep perancangan perak kontemporer Kotagede menggunakan motif sulur gelung teratai sebagai identitas budaya?

Item Type: Video
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK
Nizam, Akhmadnidn0028087208
Uncontrolled Keywords: Perak, Kotagede, Motif Sulur Gelung
Subjects: Kriya > Kriya Logam
Divisions: Fakultas Seni Rupa > Jurusan Kriya > Kriya Logam
Depositing User: IH Nurcahyadi Nurcahyadi
Date Deposited: 11 Mar 2025 04:18
Last Modified: 11 Mar 2025 04:30
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/19656

Actions (login required)

View Item View Item