Enggang Gading Maskot Kalimantan Barat Pada Busana Art Wear

Apulia, Fitri (2025) Enggang Gading Maskot Kalimantan Barat Pada Busana Art Wear. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img]
Preview
Text
FITRI AULIA_2025_PENUTUP.pdf

Download (792kB) | Preview
[img]
Preview
Text
FITRI AULIA_2025_BAB 1.pdf

Download (1MB) | Preview
[img] Text
FITRI AULIA_2025_FULL TEKS.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (12MB) | Request a copy
[img] Text
FITRI AULIA_2025_LEMBAR PERSETUJUAN PUBLISH.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (446kB) | Request a copy
Official URL: https://lib.isi.ac.id

Abstract

Enggang Gading yang merupakan maskot Kalimantan Barat sejak 1990, hadir sebagai simbol keluhuran, kepemimpinan, dan kesucian yang berakar dalam filosofi masyarakat Dayak. Dengan tubuh besar, sayap lebar, ekor panjang menjuntai, serta suara yang menggema melambangkan kekuatan, keberanian, loyalitas, dan kemakmuran. Meski sering tertukar dengan Enggang Cula yang lebih popular dalam ornamen adat, Enggang Gading menyimpan nilai luhur yang patut diangkat Kembali. Melalui motif batik, keindahan dan makna filosofis Enggang Gading diabadikan, menjadikannya bukan sekedar ikon alam, tetapi juga warisan budaya yang menegaskan identitas Kalimantan Barat. Batik sebagai salah satu warisan budaya Nusantara. Dalam upaya menjaga keaslian batik sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda, karya busana art wear ini diwujudkan dengan teknik batik tulis yang dipadukan dengan eksplorasi motif khas Kalimantan Barat, yaitu Enggang Gading sebagai maskot dengan warna merah, kuning, oranye, hitam, dan putih, serta ornamen Rumah Radakng yang mempresentasikan kebanggaan masyarakat Dayak. Untuk memperkaya tampilan, digunakan pula teknik manipulatif kain seperti pintuck dan punch needle yang sedang tren, sehingga menghasilkan karya busana art wear yang unik, modern, namun tetap berakar pada tradisi. Proses perwujudan menggunakan pendekatan estetika dalam menentukan bentuk, warna, dan nilai keindahan. Proses pengerjaan batik tulis dimulai dari tahap mencanting, yaitu menorehkan malam panas dengan canting mengikuti pola yang telah digambar di atas kain, kemudian dilakukan pengecekan detail untuk memperbaiki bagian yang kurang agar hasil pewarnaan maksimal. Setelah itu, kain melalui tahap pewarnaan berlapis, pencucian, dan penghilangan malam hingga motif terlihat jelas. Dalam karya busana ini, teknik batik tulis dipadukan dengan manipulatif kain yang dikerjakan dengan melipat kain menjadi bagian kecil yang rapi, serta punch needle dengan menusukkan jarum dengan jarak berdekatan untuk memberi tekstur seperti bulu, sehingga menghasilkan busana art wear yang unik, nyaman dipakai, dan tetap menjaga keaslian batik sebagai ciri khas Nusantara. Karya art wear yang ditampilkan menghadirkan enam busana dengan nuansa budaya Kalimantan Barat, khususnya melalui eksplorasi warna merah, kuning, oranye, hitam, dan putih yang terinspirasi dari Enggang Gading, seriap busana memiliki karakter berbeda, namun tetap menyatu. Motif motif, ornamen tiang, serta tekstur manipulatif kain seperti manipulatif kain dan punch needle memberikan nilai estetik yang tinggi. Kehadira ornamen tambahan seperti Rumah Radakng dalam detail motif memperkuat identitas local, menjadikan karya ini bukan sekedar pakaian, melainkan pernyataan budaya yang menegaskan kebanggaan akan warisan Nusantara.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK
Apulia, Fitrinim2112305022
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDK
UNSPECIFIEDIrawani, Titiananidn0024086108
UNSPECIFIEDWulandari, Trinidn0022069009
Department: KODEPRODI90211#KRIYA
Uncontrolled Keywords: ArtWear, Enggang Gading, Ornamen Tiang Rumah Radakng
Subjects: Kriya > Kriya Tekstil
Divisions: Fakultas Seni Rupa > Jurusan Kriya > Kriya Tekstil
Depositing User: FITRI AULIA
Date Deposited: 13 Jan 2026 04:27
Last Modified: 13 Jan 2026 04:27
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/22333

Actions (login required)

View Item View Item