Komodifikasi Silat Pada Skin Lam "Ascension: Pendekar" Di Game Honor Of Kings

Yuska Aadilah, Naufal (2025) Komodifikasi Silat Pada Skin Lam "Ascension: Pendekar" Di Game Honor Of Kings. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img] Text
Naufal Yuska Aadilah_2026_FULL TEKS.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (416MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
Naufal Yuska Aadilah_2026_BAB I.pdf

Download (62MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Naufal Yuska Aadilah_2026_BAB PENUTUP.pdf

Download (51MB) | Preview
[img] Text (Wawancara, Coding Komentar, Deskripsi Gerak, Deskripsi karakteristik visual batik dan songket)
Naufal Yuska Aadilah_2026_LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (36MB) | Request a copy
[img] Text
Naufal Yuska Aadilah_2026_PERNYATAAN PERSETUJUAN-PUBLIKASI.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (199kB) | Request a copy
Official URL: https://lib.isi.ac.id

Abstract

Skin “ Ascension: Pendekar ” bertema silat menjadi strategi lokalisasi Honor of Kings (HoK) menembus pasar global, khususnya Asia Tenggara, sekaligus menetralisir unsur Tiongkok dalam gim. Sayangnya, strategi ini memicu konflik identitas budaya Indonesia dan Malaysia akibat ambiguitas elemen budaya serta bauran promosinya. Metode kualitatif deskriptif diterapkan untuk membedah komodifikasi budaya ini lewat Ekonomi Politik Media, Vincent Mosco. Hasilnya menunjukkan ambiguitas visual sengaja diciptakan demi efisiensi produksi dengan membaurkan budaya Rumpun Melayu menjadi identitas netral. Kekurangan autentisitas ditutupi lewat promosi terpisah menggunakan tokoh lokal dari Indonesia dan Malaysia. Distribusi skin gratis bersyarat menjadikan pemain tenaga pemasaran sukarela demi pertumbuhan pemain organik. Hegemoni HoK dapat diterima berkat rasa bangga dan keuntungan skin gratis, tetapi rapuh karena terjadi perbandingan informasi di internet yang mempertajam konflik identitas berbasis kebangsaan. Kesimpulannya, komodifikasi budaya ini sukses melakukan penetrasi pasar dan peningkatan partisipasi aktif, tetapi gagal dalam membangun hegemoni budaya utuh. Ini justru meninggalkan perpecahan berbasis identitas kebangsaan dan menciptakan citra inkonsistensi bagi perusahaan. Di penelitian ini juga ditemukan, produk budaya sifatnya tidak pernah netral, maka perlu ada narasi inklusif dan tegas yang dapat menetralkannya. Ini menegaskan pentingnya etika adaptasi budaya dalam desain komunikasi visual, desainer harus berperan sebagai penerjemah budaya yang bertanggung jawab mempertimbangkan dampak sosial karyanya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK
Yuska Aadilah, Naufalnim2112813024
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDK
ContributorTunggul Aji, Darunidn0003018706
ContributorFaizal Rochman, Mochamadnidn0021027802
Department: KODEPRODI90241#DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
Uncontrolled Keywords: Honor of Kings, Skin Game, Komodifikasi Budaya, Ekonomi Politik Media, Silat
Subjects: Disain > Disain Komunikasi Visual
Divisions: Fakultas Seni Rupa > Jurusan Disain > Disain Komunikasi Visual
Depositing User: Naufal Yuska Aadilah
Date Deposited: 13 Jan 2026 06:25
Last Modified: 13 Jan 2026 06:25
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/22464

Actions (login required)

View Item View Item