Analogi Dilema Landak Dalam Batik Kontemporer Sebagai Wujud Busana Witchcore Style

Qotun Naily, Muafa (2025) Analogi Dilema Landak Dalam Batik Kontemporer Sebagai Wujud Busana Witchcore Style. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img] Text
MUAFA QOTUN NAILY_2026_FULL TEKS.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (7MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
MUAFA QOTUN NAILY_2026_BAB 1.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text
MUAFA QOTUN NAILY_2026_BAB PENUTUP.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Muafa Qotun Naily_2026_PERNYATAAN PERSETUJUAN-PUBLIKASI.pdf

Download (304kB) | Preview
[img] Text
Muafa Qotun Naily_2026_LAMPIRAN .pdf
Restricted to Repository staff only

Download (37MB) | Request a copy
[img] Video
watch_si=z6RMCq7g5rhq87bS&v=rz7JoLcoBvc&feature=youtu.be

Download (1MB)
Official URL: https://youtu.be/rz7JoLcoBvc?si=z6RMCq7g5rhq87bS

Abstract

Analogi dilema landak menggambarkan tantangan mendalam dalam hubungan antarmanusia, khususnya keseimbangan antara kedekatan emosional dan risiko saling melukai. Dalam cerita ini, dua landak yang merasa kedinginan berusaha berpelukan untuk menghangatkan diri, namun duri tajam pada tubuh mereka menyebabkan rasa sakit saat kedekatan tercipta. Dilema ini menghadirkan dua pilihan: menjalin kedekatan dengan risiko rasa sakit atau menjaga jarak untuk menghindari luka emosional, yang mengarah pada kesepian. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan filsuf seperti Arthur Schopenhauer yang melihat penderitaan sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia, dan Friedrich Nietzsche yang melihat tantangan sosial sebagai peluang untuk pertumbuhan pribadi. Proses penciptaan karya ini menggabungkan pendekatan estetika menurut Clive Bell dan prinsip ergonomi, yang memastikan keseimbangan antara bentuk dan fungsi. Proses dimulai dengan perancangan motif batik, diikuti dengan sketsa, pembuatan batik, dan pewarnaan tekstil. Pendekatan ergonomi memastikan bahwa busana yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga nyaman dan fungsional untuk dikenakan. Elemen estetika dipilih untuk menyampaikan pengalaman emosional yang mendalam, sementara pertimbangan ergonomi fokus pada kenyamanan, kegunaan, dan harmoni desain. Hasil akhir dari tugas ini berupa enam busana bergaya Witchcore, yang masing-masing menggabungkan elemen Witchcore dengan desain motif batik kontemporer yang menggambarkan dilema landak. Warna dingin pseperti putih, hitam dan merah digunakan untuk melambangkan kesepian, kenyamanan dan perlindungan sehingga mewujudkan pengalaman emosional. Setiap busana menampilkan motif visual yang unik dengan makna simbolis yang menggali hubungan sosial manusia melalui desain. Karya ini mencerminkan kedalaman emosional dan dinamika manusia, serta menghadirkan gaya yang khas dan bermakna.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK
Qotun Naily, Muafanim2100216025
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDK
ContributorHartono, Budinidn0020097206
ContributorPurwandari, Retnonidn0007038101
Department: KODEPRODI90311#BATIKDANFASHION
Uncontrolled Keywords: analogi dilema landak, batik kontemporer, Witchcore style
Subjects: Kriya > Batik dan fashion
Divisions: Fakultas Seni Rupa > Jurusan Kriya > D3/D4 Batik dan Fashion
Depositing User: Muafa Qotun Naily
Date Deposited: 13 Jan 2026 07:06
Last Modified: 13 Jan 2026 07:06
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/22606

Actions (login required)

View Item View Item