Empati Pengalaman Pappaseng Pada Film Kuru Sumange

Indra Wijaya Aziz, Baso (2025) Empati Pengalaman Pappaseng Pada Film Kuru Sumange. Doctoral thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img] Text
Baso Indra Wijaya Aziz_2026_Fulltext.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (137MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
Baso Indra Wijaya Aziz_2026_Bab I.pdf

Download (6MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Baso Indra Wijaya Aziz_2026_Bab V.pdf

Download (256kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Baso Indra Wijaya Aziz_2026_Pernyataan Persetujuan Publikasi Ilmiah untuk Kepentingan Akademis.pdf

Download (227kB) | Preview
Official URL: https://youtu.be/rniM05zy3ng

Abstract

Disertasi penciptaan ini bertujuan menjawab tantangan pembuatan film bertema budaya Bugis, khususnya dalam menghadirkan nilai-nilai pappaseng melalui medium sinema. Fokus penelitian terletak pada penerapan kombinasi teknik sinematografi yaitu subjective shot, close-up, dan tracking shot, sebagai strategi estetis untuk membangun keterlibatan emosional serta memperdalam empati penonton terhadap nilai-nilai budaya Bugis yang bersumber dari falsafah pappaseng. Penciptaan Film Kuru Sumange dilakukan melalui perpaduan penelitian artistik berbasis praktik (Practice-Based Research / PBR) dan metode penciptaan film (Ascher & Pincus, 2012). Prosesnya mencakup tahapan pengembangan, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi yang berlangsung secara reflektif dan spiral melalui prinsip “in and through practice”, yaitu pengetahuan yang tumbuh dari praktik kreatif sekaligus membentuk ulang praktik melalui refleksi teoretis berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, penelitian melahirkan model konseptual “symbolic space”, yaitu ruang makna sinematik yang terbentuk melalui interaksi antara kode sinematik, motivasi naratif, dan kesadaran penonton dalam menghasilkan pengalaman empatik dan spiritualitas budaya. Symbolic space mengintegrasikan teori semiotika film (Christian Metz) dan kognitivisme sinema (David Bordwell) dengan nilai-nilai pappaseng Bugis sebagai sumber etika, estetika, dan empati sosial. Film Kuru Sumange diwujudkan sebagai eksplorasi visual dari konsep ini, di mana subjective shot menelusuri kesadaran batin tokoh, close-up menghadirkan kedekatan emosional, dan tracking shot membangun kontinuitas ruang dan perasaan sebagai pengalaman spiritual yang mengalir. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan konsep symbolic space sebagai model konseptual sinema empati berbasis kearifan lokal, yang memperluas teori semiotika dan kognitivisme sinematik menuju pengalaman budaya Bugis-Makassar. Melalui symbolic space, sinema diposisikan bukan hanya sebagai karya artistik, tetapi sebagai medium reflektif dan pewarisan nilai yang menghubungkan berbagai kalangan masyarakat dengan spiritualitas dan kebijaksanaan pappaseng secara aktual, emosional, dan bermakna.

Item Type: Thesis (Doctoral)
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK
Indra Wijaya Aziz, Basonim2130155512
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDK
ContributorAgus Burhan, Mukhamadnidn0008046003
ContributorIrwandi, Irwandinidn0027117702
Department: KODEPRODI91001#PENCIPTAANDANPENGKAJIANSENI
Uncontrolled Keywords: Symbolic space, Pappaseng, Kuru Sumange, Subjective shot, Close-up, Tracking shot, Practice-Based Research.
Subjects: Penciptaan dan pengkajian seni
Divisions: Pascasarjana > S3 Penciptaan dan Pengkajian seni
Depositing User: Mr. Baso Indra Wijaya Aziz
Date Deposited: 15 Jan 2026 04:54
Last Modified: 15 Jan 2026 04:54
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/22964

Actions (login required)

View Item View Item