Ibunda

Kuardhani, Hirwan (2025) Ibunda. Citra Srikandi Indonesia, Bantul.

[img] Text
SuratCiptaan_EC002026024662.pdf

Download (1MB)
[img] Video (Sebuah puisi diciptakan dari berbagai sumber ide. Ide-ide tersebut dapat berupa: keindahan alam, perasaan jatuh cinta, perasaan rindu, rasa iba pada binatang peliharaan, rasa nasionalisme, kekaguman pada tokoh, hingga peristiwa memilukan seperti bencana)
watch_si=DtXDBEbIrUiIRrrA&v=hIaWFgEFE_E&feature=youtu.be - Published Version

Download (1MB)
Official URL: https://youtu.be/hIaWFgEFE_E?si=DtXDBEbIrUiIRrrA

Abstract

Sebuah puisi diciptakan dari berbagai sumber ide. Ide-id tersebut dapat berupa :keindahan alam, perasaan jatuh cinta, perasaan rindu, rasa iba pada Binatang peliharaan, rasa Nasionalisme, kekaguman pada tokoh, hingga peristiwa memilukan seperti bencana alam gempa, banjir, kebakaran dsb. Bencana alam yang baru-baru ini melanda Aceh dan Sumatra Barat mengilhami pembuatan Puisi berjudul IBUNDA. Dibacakan pada momen Seminar Nasional CSI (Citra Perempuan Indonesia) pada 22 Des 2025 . Menurut KBBI puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. HB Jassin (1987) mengatakan bahwa puisi adalah karya sastra yang diungkapkan dengan perasaan dan memiliki gagasan atau pikiran serta tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian tertentu. Jadi puisi adalah karya sastra yang berisi tanggapan serta pendapat penyair mengenai berbagai hal. Pemikiran penyair ini kemudian dituangkan dengan menggunakan bahasa-bahasa indah, serta memiliki struktur batin dan fisik khas penyair. Puisi memiliki nilai estetika yang berbeda-beda tergantung bergantung penulisnya, serta penyair biasanya memiliki kekhasan dalam menulis puisinya. Hal penting yang harus diperhatikan bahwa sebuah puisi adalah hakekat media bahasa kata sebagai wahana penghasil estetika. Sebuah puisi tatkala dibacakan maka sudah menjadi seni baca puisi, disebut pula seni deklamasi jika tanpa teks dalam penyampaiannya. Sepintas seni baca puisi dan deklamasi tidak dibedakan. Jika seni baca puisi, si pembaca masih dapat melihat baris, dan bait dari puisi yang dibaca, tetapi pada deklamasi murni lepas teks. Tatkala sebuah puisi sudah menjadi seni baca puisi atau menjadi seni deklamasi, maka telah bertambah kerumitannya karena harus memakai ekspresi wajah atau mimik, gerak tubuh, dan olah vokal. Hal tersebut untuk “menghidupkan” puisi yang dibacakan atau di dekalamasikan. Memberikan bentuk visual dari sebuah teks tertulis melalui tubuh dan ekspresi, sekaligus suara yang mengandung ekspresi jiwa yang bermakna. Sebuah Puisi ketika sampai pada tahap dibacakan atau dideklamasikan, maka dibutuhkan kejelian dan pengendapan dalam menyampaikan interpretasi isi puisi. Pada gilirannya dapat tepat menyampaikan pesan makna yang menyentuh dan menggugah hati audiens.

Item Type: Other
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK
Kuardhani, Hirwannidn0015076404
Subjects: Teater > Penciptaan (penyutradaraan, penataan artistik, penulisan naskah,pemeranan)
Teater > Pengkajian seni teater (dramaturgi)
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Teater
Depositing User: Hirwan Kuardhani
Date Deposited: 11 Feb 2026 01:35
Last Modified: 11 Feb 2026 01:36
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/23131

Actions (login required)

View Item View Item