Vania, Venawa (2026) Praktik Pembelajaran Tari Angguk pada Anak Tunagrahita di Sanggar Sripanglaras, Kulon Progo. Skripsi thesis, ISI Yogyakarta.
|
Text
VENAWA VANIA_2026_BAB IV.pdf Download (558kB) |
|
|
Text
VENAWA VANIA_2026_PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI.pdf Restricted to Repository staff only Download (479kB) | Request a copy |
|
|
Text
VENAWA VANIA_2026_FULL TEXT.pdf Restricted to Repository staff only Download (5MB) | Request a copy |
|
|
Text
VENAWA VANIA_2026_BAB I.pdf Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Sanggar Sripanglaras yang membuka akses bagi anak tunagrahita untuk belajar menari Angguk. Munculnya kemampuan menari pada anak tunagrahita di sanggar ini mengindikasikan bahwa keterampilan seni tidak hanya ditentukan oleh kapasitas kognitif, melainkan terdapat beberapa hal yang mempengaruhi. Maka dari itu, diduga terdapat proses pembelajaran yang memengaruhi. Permasalahan dalam peneltian ini adalah bagaimana praktik pembelajaran tari Angguk di Sanggar Sripanglaras membentuk kemampuan menari pada anak tunagrahita. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Landasan teori yang digunakan adalah teori praktik Pierre Bourdieu yang mencakup konsep arena, modal, dan habitus. Hasil penelitian menunjukkan Sanggar Sripanglaras berfungsi sebagai arena yang menyediakan ruang, aturan, serta pola interaksi yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara konsisten dan berulang. Keberlangsungan praktik ini didukung oleh empat modal: ekonomi (dedikasi dan solidaritas), kultural (internalisasi gerak dan kompetensi pelatih), sosial (relasi pelatih-siswa-orang tua), dan simbolik (apresiasi publik). Akumulasi modal yang saling berinteraksi di dalam arena ini kemudian membentuk habitus, yang tercermin dalam pembiasaan tubuh pada praktik pembelajaran. Pembelajaran dilakukan secara adaptif dengan metode demonstrasi, imitasi, isyarat, yang ditekankan pada latihan berulang dan penyederhanaan motif tanpa menghilangkan esensi. Kemampuan menari dibuktikan dengan anak tunagrahita yang dapat menampilkan tari Angguk pada saat pementasan. Praktik ini memiliki kelemahan pada keberlanjutannya yang masih sangat bergantung pada sosok Sri Wuryanti sebagai pelatih. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa metode dalam praktik pembelajaran yang diterapkan di Sanggar Sripanglaras cukup sesuai dan efektif dalam membentuk kemampuan menari anak tunagrahita melalui teknik repetisi dan penyederhanaan gerak yang adaptif. Namun, evaluasi terhadap metode ini mencatat adanya kelemahan pada ketergantungan yang tinggi pada figur pelatih. Meskipun demikian, sinergi antara habitus, dukungan modal, dan arena ini tetap menjadi kunci keberhasilan dalam kemampuan menarikan tari Angguk.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#TARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | praktik pembelajaran, Angguk, tunagrahita | |||||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | |||||||||
| Depositing User: | Venawa Vania | |||||||||
| Date Deposited: | 17 Jun 2026 06:23 | |||||||||
| Last Modified: | 17 Jun 2026 08:36 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/23279 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
