Elisabeth Manurung, Desthree (2026) Tandok Do Boru. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Desthree Elisabeth Manurung_2026_FULL TEXT.pdf Download (8MB) |
|
|
Text
Desthree Elisabeth Manurung_2026_BAB IV.pdf Download (547kB) |
|
|
Text
Desthree Elisabeth Manurung_2026_PERNYATAAN PERSETUJUAN _ PUBLIKASI.pdf Download (214kB) |
|
|
Video
watch_v=qQWZRJipEso&feature=youtu.be Download (1MB) |
|
|
Text
Desthree Elisabeth Manurung_2026_BAB I.pdf Download (1MB) |
Abstract
Karya tari ini mengangkat tentang perempuan Batak Toba sebagai representasi identitas kultural melalui simbol Tandok. Tandok, yaitu wadah tradisional masyarakat Batak Toba yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat membawa hasil panen atau seserahan adat, tetapi memiliki makna simbolik yang erat dengan perempuan Batak Toba. Tandok dimaknai sebagai benda fungsional dimaknai sebagai ruang kehidupan, simbol rahim perempuan, serta martabat, kekuatan, dan keberlanjutan generasi. Ide penciptaan karya ini adalah menghadirkan Tandok sebagai representasi identitas perempuan Batak Toba yang memiliki kekuatan, ketahanan, tanggung jawab, serta peran penting dalam menjaga kehidupan dan budaya. Ide tersebut diwujudkan dalam bentuk koreografi kelompok dengan tipe dramatik. Proses penciptaan menggunakan metode Alma M. Hawkins yang meliputi tahap eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi Karya ini disajikan dalam bentuk koreografi kelompok yang dibawakan oleh lima penari perempuan. Gerak-gerak yang digunakan dari gerak tradisi Batak Toba seperti somba, mangain, dan urdot yang dikembangkan melalui aspek ruang, waktu, dan tenaga. Struktur karya terdiri dari intro dan tiga bagian utama, yaitu identitas awal, kerja keras dan kekuatan, serta identitas yang melekat. Setiap bagian menggambarkan perjalanan makna Tandok dari benda budaya menjadi simbol perempuan Batak Toba. Selain Tandok, karya ini juga menggunakan tikar pandan sebagai simbol pondasi kehidupan dan nilai-nilai yang menopang perempuan dalam menjalankan perannya Melalui karya TANDOK DO BORU, saya ingin menyampaikan bahwa perempuan Batak Toba bukan hanya sosok yang membawa Tandok, tetapi perempuan itu sendiri adalah Tandok, yaitu ruang kehidupan yang menjaga, menampung, dan meneruskan kehidupan serta nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#TARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Perempuan, Tandok, Kehidupan | |||||||||
| Subjects: | Tari > Penciptaan Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Penciptaan) | |||||||||
| Depositing User: | Desthree Elisabeth Manurung | |||||||||
| Date Deposited: | 18 Jun 2026 07:40 | |||||||||
| Last Modified: | 18 Jun 2026 07:40 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/23423 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
