Marcelliantika, Adinda (2026) Metafora Seni Lukis Untuk Representasi Fenomena Waktu Produktif. Masters thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Adinda Marcelliantika_2026_FULL TEKS.pdf Restricted to Repository staff only Download (6MB) | Request a copy |
|
|
Text
Adinda Marcelliantika_2026_BAB I.pdf Download (706kB) |
|
|
Text
Adinda Marcelliantika_2026_BAB PENUTUP.pdf Download (384kB) |
|
|
Image
Adinda Marcelliantika_2026_LAMPIRAN 1.pdf Restricted to Repository staff only Download (522kB) | Request a copy |
|
|
Image
Adinda Marcelliantika_2026_LAMPIRAN 2.pdf Restricted to Repository staff only Download (670kB) | Request a copy |
|
|
Image
Adinda Marcelliantika_2026_LAMPIRAN 3.pdf Restricted to Repository staff only Download (545kB) | Request a copy |
|
|
Image
Adinda Marcelliantika_2026_LAMPIRAN 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (280kB) | Request a copy |
|
|
Text
Adinda Marcelliantika_2026_PERNYATAAN PERSETUJUAN-PUBLIKASI.pdf Restricted to Repository staff only Download (208kB) | Request a copy |
Abstract
Budaya kerja keras telah mempersempit makna waktu produktif dalam ekosistem kerja kreatif, produktivitas hampir sepenuhnya diidentikkan dengan eksekusi dan output yang terlihat, sementara pemulihan dan koneksi sosial terabaikan sebagai bagian yang setara dalam siklus kerja. Kesenjangan ini menjadi titik berangkat penciptaan karya seni lukis yang bertujuan mengidentifikasi elemen-elemen waktu produktif dalam ekosistem kerja kreatif sebagai konsep penciptaan seni lukis, sekaligus merepresentasikannya melalui metafora visual sebagai tawaran sistem penandaan alternatif. Empat kerangka teoritis menopang penelitian ini secara berlapis. Teori proses kreatif Wallas (1926) memetakan tiga elemen waktu produktif: eksekusi, pemulihan, dan koneksi. Teori representasi Stuart Hall (1997) melandasi pemilihan seni lukis sebagai medium untuk memproduksi makna alternatif. Teori metafora konseptual Lakoff dan Johnson (1980) yang diperdalam oleh Brandl (2023) menjadi kerangka operasional untuk menerjemahkan temuan data ke dalam bahasa visual. Pemikiran Kandinsky (1946) tentang resonansi emosional warna dan bentuk menjadi landasan keputusan estetis dalam karya. Metode Practice-Led Research dengan pendekatan Research Through Art (Frayling, 1993) digunakan sebagai kerangka kerja utama. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan angket kepada responden dari ekosistem kerja kreatif, kemudian diolah melalui pemetaan metafora konseptual untuk menghasilkan orientasi visual awal per elemen. Orientasi ini menjadi titik berangkat proses perancangan dan perwujudan karya di studio melalui mekanisme reflection-for-action, reflection-in-action, dan reflection-on-action (Schön, 1983). Empat karya seni lukis dihasilkan dengan pendekatan surealis figuratif menggunakan cat akrilik di atas kanvas: “Tumbuh Mengikat” merepresentasikan eksekusi, “Diam yang Bekerja” merepresentasikan pemulihan, “Menjangkau” merepresentasikan koneksi, dan “Utuh” sebagai sintesis ketiganya. Asosiasi visual dari data lapangan terbukti dapat berfungsi sebagai sumber metafora yang hidup apabila diolah melalui kerangka pemetaan yang tepat, dan praktik melukis dalam kerangka PLR menghasilkan pemahaman yang tidak dapat dicapai melalui kajian teoritis semata.
| Item Type: | Thesis (Masters) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Department: | KODEPRODI91101#MAGISTERPENCIPTAANDANPENGKAJIANSENI | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | metafora, seni lukis, representasi,waktu produktif | ||||||
| Subjects: | Seni Murni > Seni Lukis | ||||||
| Divisions: | Pascasarjana > S2 Studi Penciptaan dan pengkajian seni | ||||||
| Depositing User: | Adinda Marcelliantika | ||||||
| Date Deposited: | 25 Jun 2026 01:45 | ||||||
| Last Modified: | 25 Jun 2026 07:05 | ||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24356 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
