Ninik M., Fransiska (1999) Kehadiran Jatilan "Krido Mudo" di Bayeman Mudal Maagelang. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (12MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (43MB) | Request a copy |
Abstract
Tahun 1960-an daerah Bayeman Mudal sering terjadi pencurian, perampokan, dan pemerkosaan sehingga terkenal sebagai daerah rawan sosial. Hal itu disebabkan oleh ulah para pemuda yang menganggur akibat putus sekolah, kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, dan tingkat pendidikan yang rendah. Kesan buruk daerah Bayeman Mudal tersebut melatarbelakangi para sesepuh desa untuk mengadakan kegiatan kesenian jathilan. Kesenian jathilan dijadikan sebagai upaya menghilangkan kesan buruk dan membangun citra daerah Bayeman Mudal menjadi lebih baik dan positif. Akhirnya, pada bulan Juli tahun 1967 didirikan kelompok kesenian Jathilan "Krido Mudo" di Bayeman Mudal, Magelang. Daerah Bayeman Mudal terletak di Desa Kemirirejo, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang. Di sebelah barat desa tersebut terdapat objek wisata Taman Rekreasi Kyai Langgeng, salah satu objek wisata terkenal di Magelang. Oleh karena kesenian jathilan saat ini termasuk kesenian tradisional yang mulai jarang dijumpai, maka keberadaan Jathilan "Krido Mudo" menarik perhatian penulis untuk meneliti keberadaannya. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan sosiologis dan historis. Pendekatan tersebut digunakan karena jathilan merupakan kesenian tradisional rakyat yang menjadi produk budaya masyarakat dan memiliki nilai historis dalam perkembangan masyarakat Bayeman Mudal. Melalui pendekatan ini diharapkan diperoleh hasil penelitian yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Secara keseluruhan, bentuk pertunjukan Jathilan "Krido Mudo" terdiri atas tiga babak. Babak pertama menggunakan gerak Buduran yang berkarakter halus, babak kedua menggunakan gerak Srowolan yang berkarakter keras, sedangkan babak ketiga merupakan gerak Srowolan yang dilanjutkan dengan kondisi trance. Unsur-unsur gerak yang ditampilkan meliputi gerak kaki, tangan, dan kepala dengan variasi motif gerak seperti junjungan, sirig, ukel, sembahan, ngithing, obah balad, dan coklekan. Selain itu terdapat gerak rampak para penari berkuda dalam pola lantai barisan 4–4 yang membawakan rangkaian gerak sembahan, jengkeng, jogedan, hingga perangan. Pola lantai yang digunakan meliputi lingkaran, garis lengkung, garis lurus, dan garis diagonal. Iringan musik Jathilan "Krido Mudo" menggunakan instrumen gamelan berlaras slendro dengan perpaduan musik pentatonis. Penata iringan adalah Bapak Supri, sedangkan Bapak Sukandar bertindak sebagai wiraswara. Penari Jathilan "Krido Mudo" menggunakan tata rias realistis untuk memperjelas karakter wajah, sedangkan busananya merupakan perpaduan bentuk realistis dan stilisasi. Properti yang digunakan meliputi kuda kepang, keris, dan pedang sebagai perlengkapan perang. Beberapa penari menggunakan topeng Penthul, Tembem, Buta, dan Barongan. Topeng Barongan dan Buta menutupi seluruh wajah, sedangkan Penthul dan Tembem hanya menutupi sebagian wajah. Pertunjukan Jathilan "Krido Mudo" biasanya dilaksanakan di halaman rumah atau tanah lapang pada hari Minggu maupun hari libur lainnya, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Pertunjukan umumnya diselenggarakan di wilayah Magelang dan sekitarnya, kecuali apabila mengikuti festival atau mendapat tanggapan di luar daerah. Tarif pementasan pada saat penelitian sebesar Rp500.000 untuk luar kota dan Rp300.000 untuk dalam kota, sedangkan biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh pihak penanggap. Sarana pendukung pertunjukan meliputi sistem tata suara (sound system), sesaji, dan pawang. Sesaji yang disiapkan berupa bunga mawar, buah-buahan, dupa, dan jajanan pasar. Sesaji dipercaya sebagai syarat pertunjukan untuk menghindari gangguan roh-roh yang memasuki tubuh penari saat mengalami trance serta untuk menjaga kelancaran jalannya pertunjukan. Pawang bertugas memimpin ritual dan menyembuhkan penari setelah mengalami trance. Jathilan "Krido Mudo" mengandalkan berbagai atraksi yang menarik perhatian penonton, terutama ketika para penari berada dalam kondisi trance, seperti kebal terhadap benda tajam dan berbagai atraksi lainnya. Proses lahirnya Jathilan "Krido Mudo" berawal dari keprihatinan para sesepuh Bayeman Mudal terhadap kondisi sosial masyarakat. Atas prakarsa para sesepuh desa, para pemuda dikumpulkan dan diarahkan untuk mengikuti kegiatan jathilan sebagai wadah pembinaan sekaligus upaya memperbaiki citra daerah. Pemilihan kesenian jathilan didasarkan pada kenyataan bahwa masyarakat Bayeman Mudal pada saat itu lebih mengenal dan menyukai jathilan dibandingkan kesenian tradisional lainnya. Perkembangan Jathilan "Krido Mudo" menunjukkan hasil yang sangat baik. Kesenian ini diterima sepenuhnya oleh masyarakat Magelang Selatan, khususnya Desa Kemirirejo dan sekitarnya. Hal tersebut terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat setiap kali pertunjukan diselenggarakan. Penonton berasal dari berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang usia, status sosial, agama, maupun latar belakang ekonomi, dan umumnya merasa puas serta terhibur setelah menyaksikan pertunjukan. Keberadaan Jathilan "Krido Mudo" kini semakin berkembang dan dikenal luas di Jawa Tengah karena sering mengikuti berbagai festival jathilan serta meraih berbagai prestasi. Selain itu, kelompok ini juga sering diundang untuk mengisi acara peresmian gedung, peringatan hari besar nasional, perkawinan, khitanan, dan nadar. Berkat berbagai prestasi tersebut, citra Bayeman Mudal berubah menjadi lebih baik dan positif sehingga stigma sebagai daerah rawan sosial berhasil dihilangkan. Adanya berbagai atraksi menarik yang dilakukan oleh para penari kerasukan merupakan salah satu faktor yang membuat penulis tertarik untuk meneliti, disamping itu juga iringan, busana serta bentuk penyajiannya.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Jatilan "Krido Mudo",Bayeman Mudal Maagelang | |||||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | |||||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | |||||||||
| Date Deposited: | 27 Jul 2026 01:29 | |||||||||
| Last Modified: | 27 Jul 2026 01:29 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24588 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
