Nurlistyani, Lin (1995) Kesenian Jlantur Suatu Pendekatan Pola Budaya Terhadap Masyarakat Karangsari Semin Gunungkidul. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (10MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (3MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (34MB) |
Abstract
Di Kabupaten Gunungkidul terdapat berbagai bentuk kesenian di antaranya Reog, Tayub, Jlantur, Srandul, Jothil dan Slawatan. Kecamatan Semin yang merupakan salah satu dari 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul, terdapat beberapa jenis kesenian di antaranya Slawatan, Kethoprak, Tayub, Jlantur, Reog. Ke senian Jlantur terdapat di kelurahan Karangsari, yang terletak di sebelah timur kecamatan Semin ± 3~ Km, dan ±26 dari kota Wonosari sebagai ibukota Gunungkidul. Warga desa Karangsari merupakan masyarakat pedesaan yang sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani tradisional. Biasanya tanah yang mereka miliki diperoleh secara turun-temurun dari warisan nenek moyangnya. Demikian juga dalam keagamaan, biasanya mereka meyakini suatu agama yang diwariskan oleh nenek moyangnya . Kesenian Jlantur pertama kali muncul di dusun Purwo kelurahan Karangsari pada tahun 1937. Pada saat terciptanya kesenian ini digunakan untuk mengiringi gunungan bertepat an dengan acara garebeg pada setiap bulan yang Maulud atau Rabiul'awal yang dilakukan dari kelurahan Karangsari menuju ke kecamatan Semin. Selain itu, kesenian ini juga dipentaskan pada peringatan-peringatan yang ada kaitannya dengan masa penguasaan Belanda, seperti lahirnya Ratu Yuliana, pengantinnya Ratu dengan Pangeran Bernard . Bentuk penyajian kesenian Jlantur menggambarkan prajurit dalam bentuk tari perang yang memperagakan olah senjata tajam. Para pendukung dari kesenian Jlantur dalam pementasannya berjumlah 20 orang, yaitu 2 penari bertopeng gecul, 2 penari kuda, 4 penari pedang, 8 penari tombak dan 4 pemukul instrumen. Kostum yang dipergunakan dalam pementasan kesenian Jlantur antara lain : Kain panjang atau jarit, baju, stagen sampur, celana, slempang, sabuk, iket, ketepen, lwpluk dan topeng. Properti yang digunakan adalah pedang, kuda kepang/kuda-kudaan. Sedang instrumen yang tombak dan digunakan meliputi bendhe, terbang dan peluit yang digunakan sebagai aba-aba. Kesenian Jlantur merupakan hasil ~udaya dari masyarakat Karangsari yang mempunyai pola-pola tertentu dan mempunyai nilai-nilai yang harus dipelajari dan diwariskan sebagai pedoman yang potensial untuk kehidupan dari kesenian itu. Pola budaya dari suatu masyarakat dapat dilihat dari tingkah laku anggota-anggota masyarakatnya, keagamaan mereka, atau dari benda-benda budaya sebagai hasil dari karya mereka. Penulisan ini membicarakan kesenian Jlantur sebagai pola budaya masyarakat Karangsari yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masyarakat pendukung dari kesenian itu. Untuk membahas kesenian Jlantur sebagai pola budaya dari masyarakat Karangsari, digunakan sudut pandang Sosiologi Budaya dengan memakai konsep Raymond Williams yang mengemukakan tiga komponen pokok yaitu : pertama, lembaga budaya, yakni apa dan siapa yang menghasilkan, mengontrol dan memelihara kesenian Jlantur; kedua, simbol-simbol atau isi apa yang terdapat dalam kesenian Jlantur; dan ketiga, memberi konsekuensi bagaimana efek keberadaan dari kesenian Jlantur .
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | Kesenian Jlantur, Pola budaya, Masyarakat Karangsari, Sosiologi Budaya, Raymond Williams. | ||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | ||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | ||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | ||||||
| Date Deposited: | 27 Jul 2026 03:42 | ||||||
| Last Modified: | 27 Jul 2026 03:42 | ||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24624 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
