Nurwati, Eko (2002) Wayang Wong Pedalangan di Dusun Ngajeg, Kalasan Sleman Yogyakarta Sebuah Transformasi. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (7MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (40MB) | Request a copy |
Abstract
Wayang wong pedalangan adalah salah satu dramatari rakyat yang berkembang di lingkungan pedesaan, tempat dalang-dalang menetap. Perkembangan wayang wong pedalangan ini pada awalnya hanya terbatas dilakukan oleh komunitas dalang dan anak keturunannya. Lambat laun kesenian ini berkembang di luar komunitas dalang. Salah satu dalang yang mengembangkan kesenian ini adalah Ki Redisono yang kemudian diteruskan oleh anaknya yaitu Ki Gondowasito. Setelah Ki Gondowasito meninggal, diteruskan oleh anaknya yaitu Ki Sugeng Widodo dan Ki Sugito. Dalang-dalang ini menetap di dusun Ngajeg, Kalasan, Sleman Yogyakarta, yang menguasai tiga bentuk kesenian yaitu wayang kulit, wayang topeng dan wayang wong pedalangan. Sebagai sebuah dramatari, wayang wong pedalangan terwujud karena keberadaan dalang sebagai abdi dalem keraton Yogyakarta. Hal lain yang mendukung adalah adanya apresiasi dari para dalang dalam melihat pertunjukan wayang wong gaya Surakarta yang telah menjadi bentuk kesenian komersial dan dipentaskan di panggung prosenium. Bentuk-bentuk yang muncul menyesuaikan kemampuan para dalang dalam melihat dan melakukan kembali sebuah pertunjukan. Struktur drarnatik yang digunakan dalam wayang wong pedalangan masih mengikuti pembagian struktur pathet dalam wayang kulit. Pembagian struktur dramatik ini berkaitan dengan pembagian adegan. Transformasi cerita dari epos Mahabarata yang memrupakan sumber materi dramatik dalam wayang wong pedalangan nampak pada penggunaan lakon carangan. Untuk mendukung karakter suatu tokoh dibutuhkan gerak yang merupakan pengalihan bentuk dari gerak-gerak dalam wayang wong gaya Yogyakarta dan Surakarta, disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh para dalang. Busana yang digunakan merupakan perpaduan antara busana gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pola iringan yang digunakan adalah pola iringan dalam wayang kulit. Adapun tempat yang digunakan adalah pendapa dengan konsep estetis yang disesuaikan dengan alam lingkungan pedesaan.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Wayang Wong Pedalangan, Dusun Ngajeg,Transformasi | |||||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | |||||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | |||||||||
| Date Deposited: | 27 Jul 2026 04:22 | |||||||||
| Last Modified: | 27 Jul 2026 04:22 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24641 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
