Makna Simbolis Wayang Wong Lakon Sri Kembang Dalam Upacara Kesuburan di Desa Tutup Ngisor Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang

Suradjinah, Suradjinah (1997) Makna Simbolis Wayang Wong Lakon Sri Kembang Dalam Upacara Kesuburan di Desa Tutup Ngisor Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img] Text
Bab I.pdf

Download (12MB)
[img] Text
Bab IV.pdf

Download (2MB)
[img] Text
Full Teks.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (50MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Tugas Akhir yang berjudul "Makna Simbolis Wayang Wong Lakon Sri Kembang Dalam Upacara Kesuburan di Desa Tutup Ngisor Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang", pada dasarnya dimaksudkan untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam bentuk simbol yang berupa wayang wong lakon Sri Kembang. Mempelajari simbol merupakan hal yang menarik, bahwasannya di dalam sebuah sosok atau wujud terkandung suatu makna yang dalam. Untuk itu aspek-aspek yang menyangkut pada masalah sejarah, religi, filsafat dan estetika dimaksudkan untuk mengetahui eksistensi wayang wong lakon Sri Kembang sebagai bentuk simbol di dalam kehidupan masyarakat. Kehadiran wayang wong di desa Tutup Ngisor dirintis oleh Jasa Sudarmo (almarhum) yang memiliki kelebihan,di bidang seni dan spiritual magis. Dia belajar seni tari dan wayang wong dari abdi dalem Langen Taya sewaktu mengabdi di Istana Mangkunegaran sebagai abdi dalem. Setelah kembali dari Mangkunegaran, di desa asalnya di Tutup Ngisor pada tahun 1937 ia mendirikan padepokan seni yang diberi nama Cipta Budaya. Upaya selanjutnya dibuat jadwal tetap untuk melangsungkan kegiatan kesenian yaitu dengan menetapkan pentas wajib wayang wong yang harus dilaksanakan setiap tahun 3 kali yaitu : 1. Pada bulan Suro (Muharam) pentas yang ada hubungannya dengan upacara ritual kesuburan dengan mengambil cerita Sri kembang. 2. Pada bulan Syawal (hari raya Idul Fitri) sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah Tuhan. 3. Pada tanggal 17 Agustus untuk memperingati hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ketiganya ini merupakan ungkapan "Wajib", wajib melestarikan, wajib mensyukuri segala yang dihadapi. Wayang wong lakon Sri Kembang yang dipakai sebagai media upacara kesuburan ini, diiringi dengan seperangkat gamelan laras slendro dan pelog yang sangat sederhana, terbuat dari besi. Adapun mengenai gerak tari, tata rias dan busana serta perwatakan tokoh diselaraskan dengan paugeran(aturan) yang telah ada dalam wayang wong di Istana Mangkunegaran sebagai sumber munculnya wayang wong panggung komersial. Pertunjukan ini dilakukan secara turun-temurun meskipun sudah berlangsung dari beberapa generasi. Upacara kesuburan adalah suatu upacara ritual tempat penyatuan mitos dengan religi. Mitosnya adalah Dewi Sri Kembang yang diyakini sebagai Dewi Kesuburan sedangkan religinya adalah wujud upacara kesuburan. Mengingat dalam religi ada keterkaitan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa dan memakai simbol-simbol tertentu yang diyakini oleh kelompok anggota masyarakat pendukungnya dianggap memiliki kekuatan tertentu yang sulit dilihat dengan indera biasa namun diyakini keberadaannya, maka upacara kesuburan mempunyai arti dan tujuan tertentu. Berkaitan dengan disajikannya lakon Sri Kembang untuk kepentingan upacara kesuburan, tentunya lakon tersebut memliki kekuatan tertentu pula. Sebagai lakon yang mengandung mantra pangruwatml yang dilakukan oleh Semar, maka lakon ini mempunyai kandungan magis sastra, artinya sastra yang mengandung kekuatan magis ini ditentukan oleh faktor sugesti, sedangkan sugesti banyak ditentukan oleh pribacli seserorang atau kelompok anggota masyarakat terhadap obyek yang disugestikan. Dengan demikian sugesti adalah masalah rasa, yang kemudian menjadi semacam prinsip secara pribadi maupun kelompok anggota masyarakat pendukungnya yang tidak dapat diganggu gugat. Maka dari itu makna yang terkandung dalam lakon Sri Kembang kaitannya untuk kepentingan upacara kesuburan dapat dirasakan oleh mereka yang telah tersugestikan oleh lakon dan upacara tersebut. Mengingat lakon Sri Kembang yang mengandung magis sastra dan hanya dipentaskan untuk kepentingan upacara kesuburan, maka sebagai relevansinya ada syarat-ayarat tertentu untuk mementaskan lakon tersebut antara lain dalang dan penari harus' dari keturunan Jasa Sudarmo. Adapun inti dari upacara kesuburan dapat terlihat dalam adegan Semar bersamadi memohon turunnya Dewi Sri kembang (wahyu kesuburan) untuk memberikan daya tumbuh pada tumbuh-tumbuhan. Untuk mengupas permasalahan di atas, pendekatan yang digtmakan adalah pendekatan historis, sosiologis, dan antropologis dengan metode diskriptif analisis. Dengan pendekatan dan landasan teori tersebut diharapkan tulisan ini jelas dalam mengupas masalahnya. Akhirnya diharapakan tulisan ini bermafaat bagi semua pihak yang berkepentingan, terutama dinas-dinas yang terkait khususnya dinas pertanian, menghayati apa yang terkandung dalam lakon Sri kembang, sehingga ada keseimbangan antara polarisasi intensifikasi pertanian dengan upacara kesuburan yang secara ilmiah dapat meningkatkan hasil pertanian, dengan upacara kesuburan yang secara ilmiah sulit dilihat hasilnya namun diakui adanya. Di samping itu upacara kesuburan sebagai suatu perilaku religius di dalamnya terkandung konsep Manuggaling Kawula Gusti. Dengan adanya keseimbangan tersebut diharapkan kehidupan petani tradisional akan lebih meningkat.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK/NUPTK
Suradjinah, Suradjinahnim510688011
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDK/NUPTK/NIM/NIP
ContributorWayan Dana, Inidn0008035603
UNSPECIFIEDSurojo, Surojonidn0029066106
Department: KODEPRODI91231#SENITARI
Uncontrolled Keywords: Makna simbolis, Wayang Wong Lakon Sri Kembang, Upacara Kesuburan, Desa Tutup Ngisor
Subjects: Tari > Pengkajian Tari
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian)
Depositing User: susilo SW wati
Date Deposited: 31 Jul 2026 08:46
Last Modified: 31 Jul 2026 08:46
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/25042

Actions (login required)

View Item View Item