Studi penelusuran Ilustrasi Cerpen Kompas Periode Tahun 2008-2010

Eko Saputro, NIM: 0711891021 (2012) Studi penelusuran Ilustrasi Cerpen Kompas Periode Tahun 2008-2010. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (11MB) | Preview
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (16MB) | Request a copy
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (64MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
BAB IV.pdf

Download (3MB) | Preview
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (5MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Sejalan dengan rumusan masalah, tujuan dan temuan penelitian m1, simpulan yang dapat penulis tarik adalah sebagai berikut; a). Para perupa mempunyai frame yang jelas dalam proses pembuatanilustrasi yaitu mengacu kepada teks cerpen lebih sebagi sumber inspirasi kreatif, dari mana ia menggali makna-makna baru . Para perupa melihat cerpen melalui sudut pandangnya sendiri dengan menangkap seluruh isi cerita yang dalam hal ini para perupa menggunakan privilese yang dimilikinya untuk menafsirkan sebebas-bebasnya isi cerpen kemudian direpresentasikan dengan bahasa estetisnya masing-masing, sebagai salah satu contoh ilustrasi dari Laksmi Shitaresmi untuk pendamping cerpen ''Namaku Loman Zen Loman" karya Soeprijadi Tomodihardjo tanggal 20 Januari 2008. Cerpen tersebut mengisahkan tentang tiga orang warga negara Indonesia yang menjadi imigran asing di Hsinhua (Tiongkok), dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa tokoh "aku" tidak merasakan kebahagiaan menjadi imigran meskipun hidup mewah karena bertahun-tahun harus berpisah dengan anak istri bahkan ruang privasipun tidak dihargai di negeri (Hsinhua) yang menjunjung tinggi kolektivisime. Karya ilustrasi Laksmi tidak memvisualkan bagian adegan dalam cerita tetapi keseluruhan cerita yang kemudian dihadirkan dengan makna-makna baru seperti halnya tanda-tanda visual berupa ikan solid, figur manusia yang diwayangkan, pendulum warna pelangi dan tangan. Khusus untuk tanda visual berupa ikan solid dan tangan adalah tanda visual yang sering dihadirkan Laksmi dalam karya­ karyanya (selain ilustrasi). Lalu apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi para perupa dalam pembuatan ilustrasi dan bagaimana faktor-faktor itu mempengaruhi proses kreatifperupa? b). Berdasarkan temuan penulis, kebebasan berekspresi dan mutu interpretasi serta mutu cerpen itu sendiri sangat berpengaruh terhadap basil akhir ilustrasi. Banyak ilustrasi cerpen yang penulis temukan kualitas estetisnya sama dengan karya-karya yang mereka buat sehari-hari, misalkan karya Bunga Jeruk, Rudi Mantofani, I Wayan Wirawan, I Made Arya Palguna, ada pula karya ilustrasi yang hanya berhenti sebagai sebuah karya ilustrasi dalam artian hanya menampilkan ulang potongan adegan yang ada dalam cerita misalkan karya Putu Sutawijaya, Wedhar Riyadi, S Teddy D dan I Wayan Suja. Ada ju ga cerpen yang direspon oleh perupa dengan menawarkan solusi dari permasalahan tokoh dalam cerita misalkan cerpen "Lidah" yang ceritanya mengisahkan disharmonis dalam keluarga antara menantu dan mertua yang tinggal satu atap, Ade Darmawan hadir dengan menampilkan visual ilustrasi berupa papan nama jasa jual beli rumah kontrakan. Cerpen "Alfurqon, Sebuah Malam, Sebuah Sajak" karya Toni Lesmana adalah kecenderunga cerpen dengan bahasa sastra "tinggi" (kiasan) atau bahasa "puitis" (yang orang awam sulit pahami) sehingga ilustrasi yang hadirpun menampilkan tanda-tanda visual yang sangat personal.Lalu bagaimana hubungan semantik antara ilustrasi dengan isi cerpen yang diilustrasikan? c). Berdasarkan hasil temuan penulis, ilustrasi cerpen di harian Kompas yang selama ini menjadi perbincangan bahkan perdebatan para cendekia rupa mengenai tidak adanya korelasi antara ilustrasi dengan cerpen sebenarnya sangat bergantung pada pemahaman pembaca itu sendiri. Butuh pemahaman yang tidak hanya sekilas (sekali baca) untuk mengetahui hubungan semantik antara ilustrasi dan cerpen karena kecenderungan ilustrasi cerpen di Kompas yang penulis temukan memang tidak secara eksplisit merepresentasikan isi cerpen seperti halnya karya ilustrasi Eko Nugroho untuk karya cerpen "Foto", karya Tiarma Sirait untuk cerpen "Janji". Misalkan karya ilustrasi Tiarma Sirait untuk karya cerpen "Janji", cerpen tersebut mengisahkan tokoh "aku" yang menjadi korban kekerasan ayah tirinya, di dalam ilustrasi tersebut Tiarma Sirait menghadirkan banyak sekali tanda-tanda kekerasan berupa visual darah (yang keluar dari mata, pipi dan bibir), mulut yang di tensoplast, tangan yang terlipat di belakang kepala dan tokoh "aku" yang dilanda trauma kekerasan dari ayah tirinya dihadirkan dengan cukup kreatif dalam visual oleh Tiarma berupa bayangan lelaki pada kacamata. Ilustrasi cerpen diharian Kompas telah melaksanakan fungsinya dengan baik sebagai sebuah karya ilustrasi, jika kemudian ada anggapan bahwa pengerjaan ilustrasi telah menyimpang dari penanda/ petanda pada teks, itu dikarenakan cerpen sebagai sebuah "titik berangkat" proses kreatif untuk mencipta, seniman dipengaruhi diinspirasi, diilhami dan distimulus oleh "teks" yang ditawarkan. lsi cerpen masih dapat terepresentasikan dengan baik dan kreatif oleh ilustrasi dengan beragam medium, teknik, gaya ungkap dan yang pasti dengan bahasa khas estetis yang dimiliki oleh masing-masing perupa, sebagai contoh karya ilustrasi Hera Pahlasari untuk cerpen "Solilokui Bunga Kemboja" berupa karya kolase dan video, karya Ade Darmawan untuk cerpen "Lidah" berupa karya fotografi, karya Eko Nugroho untuk cerpen "Redi Kelud" berupa instalasi yang kemudian ditampilkan dalam bentuk foto.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Dosen Pembimbing: Dwi Marianto, Wiwik Sri Wulandari
Uncontrolled Keywords: Ilustrasi Cerpen Kompas, seni grafis
Subjects: Seni Murni > Seni Grafis
Divisions: Fakultas Seni Rupa > Jurusan Seni Murni > Seni Grafis
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 26 Oct 2017 06:58
Last Modified: 26 Oct 2017 06:58
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/2593

Actions (login required)

View Item View Item