PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG KEBIJAKAN PENERAPAN RESOURCE DESCRIPTION AND ACCESS DI INDONESIA

Perpustakaan Nasional RI, - (2016) PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG KEBIJAKAN PENERAPAN RESOURCE DESCRIPTION AND ACCESS DI INDONESIA. Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

[img]
Preview
Text
Perka-2-2016-Kebijakan-Penerapan-RDA.pdf

Download (1MB) | Preview
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Seiring perkembangan berbagai jenis koleksi perpustakaan, terutama dalam bentuk digital, dan perkembangan tuntuntan global, khususnya dalam rangka menyongsong masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akhir tahun 2015, Indonesia perlu menyusun kebijakan dan menyiapkan standar dalam pengolahan bahan perpustakaan sesuai dengan perkembangan tehnologi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang perpustakaan. Beberapa Perpustakaan Nasional di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina sudah menerapkan Resources Description and Access (RDA) dalam pengolahan bahan perpustakaan, hal itu dipilih karena lebih berorientasi pada masyarakat (pemustaka) dalam menelusur informasi dan memberikan kemudahan akses informasi melalui pentautan (link) informasi yang terkadung dalam dokumen. Pengelolaan bahan perpustakaan yang mencakup pengolahan dan pelayanan bahan perpustakaan menurut Anglo American Cataloguing Rules 2nd ed. (AACR2) masih sederhana dan konvensional, serta sarana penelusuran informasi hanya terbatas pada kartu katalog saja yang disajikan secara manual. Dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan teknologi informasi, koleksi perpustakaan menjadi sangat beragam baik dalam bentuk cetak maupun elektronik. Begitu pula halnya dengan sistem pengelolaan perpustakaan sudah mulai terotomasi. Pengolahan bahan perpustakaan sudah berbasis komputer, sarana temu kembali informasi yang terbacakan mesin komputer melalui katalog terpasang atau dikenal dengan Online Public Access Cataloging (OPAC).Layanan perpustakaan pun dapat diakses oleh pemustaka secara luas. Perpustakaan berkembang ke arah yang lebih baik serta menjadi tempat yang nyaman bagi pemustaka. Dampak globalisasi memacu pengelola perpustakaan untuk meningkatkan kualitas diri agar bisa bersaing dengan negara lain. Keterbukaan informasi, kemudahan akan akses informasi, perkembangan teknologi, dan kemudahan dalam komunikasi menuntut perpustakaan senantiasa beradaptasi terhadap perkembangan tersebut melaluin pelayanan yang cepat dan akurat. Sesuai dengan Pasal 49 Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 3 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perpustakaan Nasional, Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan perpustakaan bertugas melaksanakan pengembangan koleksi dan pengolahan bahan perpustakaan. Selanjutnya, dalam mengolah bahan perpustakaan diperlukan pedoman yang mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Namun, pedoman tersebut tetap sesuai dengan perkembangan standar pengatalogan internasional agar terdapat kesamaan dan ketaatazasan dalam pengolahan bahan perpustakaan. Standardisasi pengolahan bahan perpustakaan ini sangat penting karena metadata koleksi Perpustakaan Nasional akan dimasukkan dalam data katalog internasional (Worldcat) yang mempunyai kesamaan pola dan tatanan agar mudah dalam penelusuran informasi. Katalog merupakan alat bantu penelusuran informasi di perpustakaan. Proses pengatalogan tidak terlepas dari sejumlah aturan dan pedoman dalam pembuatannya. Standar dalam pengatalogan bahan perpustakaan diantaranya menggunakan International Standard Bibliographic Description (ISBD) dan AACR2. Namun seiring dengan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi AACR2 dirasa tidak mampu lagi merepresentasikan isi dari bahan perpustakaan jenis digital. Sejak tahun 2005, Resources Description and Access (RDA) dirancang sebagai format standar pengatalogan deskriptif dan akses untuk semua jenis bahan perpustakaan, terutama untuk sumber-sumber dalam bentuk digital. Pada tahun 2010 banyak perpustakaan mulai beralih menerapkan standar pengatalogan baru yang mengganti AACR, yakni RDA. Kemunculan RDA didorong oleh adanya fakta banyak koleksi perpustakaan yang berbentuk digital yang membuat hubungan antara pustakawan dan pemustaka menjadi semakin penting. RDA dibangun di atas fondasi AACR2 dan menjadi standar baru pendeskripsian bahan perpustakaan dan akses semua jenis konten dan media. RDA bertujuan membantu pemustaka dalam mencari, mengidentifikasi, memilih dan mendapatkan informasi yang diinginkan. Perpustakaan Nasional dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Sebagai lembaga pembina seluruh jenis perpustakaan, sudah seharusnya Perpustakaan Nasional mengantisipasi kehadiran standar pengolahan bahanperpustakaan yang berkembang, yaitu RDA yang memudahkan dalam mengakomodir pengatalogan berbagai jenis bahan perpustakaan, terutama untuk koleksi digital serta dapat menunjukan suatu hubungan antara satu karya dengan karya yang lain dengan menautkan (link) antara suatu cantuman dengan cantuman lainnya. Hal tersebut akan sangat membantu pemustaka dalam menelusur informasi yang dibutuhkan sehingga dapat dikatakan bahwa penerapan RDA di Perpustakaan Nasional sangat penting karena lebih berorientasi layanan yang mengutamakan pada kebutuhan pemustaka.

Item Type: Other
Uncontrolled Keywords: RDA,
Subjects: Dokumentasi Lain
Divisions: Repository ISI Yogyakarta
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 06 Apr 2018 03:43
Last Modified: 06 Apr 2018 03:43
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/3020

Actions (login required)

View Item View Item