Hyang Sitawaka

Mareta Dwi Mur Shella Sari, 1311436011 (2018) Hyang Sitawaka. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img] Text
BAB 1.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB) | Request a copy
[img] Text
BAB 2.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (956kB) | Request a copy
[img] Text
BAB 3.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
BAB 4.pdf

Download (862kB) | Preview
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB) | Request a copy
[img] Video
KARYA.mp4
Restricted to Repository staff only

Download (1GB) | Request a copy
[img]
Preview
Text
JURNAL.pdf

Download (2MB) | Preview
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Pemimpin sebuah kerajaan biasanya adalah seorang laki-laki, berbeda dengan yang terjadi di kerajaan Matswapati yang memiliki raja seorang perempuan yang bernama Sitawaka.Sitawaka merupakan titisan dari Sang Hyang Betari Sri prameswari dari Sang Hyang Betari Wisnu. Sitawaka merupakan sosok perempuan yang mempunyai jiwa kepemimpinan serta kharisma yang tinggi, kecakapannya dalam memimpin Negara dan keberaniannya dalam mengawal Nuswantara, sehingga negara-negara lain (kerajaan yang menginduk atau kadipaten) akan sukarela menginduk di bawah sang pemimpin. Karakter ini yang kemudian menjadikan Sitawaka ratu di kerajaan tersebut dan menjadi panutan bagi rakyat yang ada di Arcapada. Karya ini diberi judul Hyang Sitawaka dalam bahasa sansekerta Hyang artinya memuliakan sedangkan Sitawaka sita artinya baik dan waka artinya api. Apabila diartikan nama Hyang Sitawaka diartikan suatu gejolak spirit yang membara dalam memuliakan seorang pemimpin yang menjadi panutan dalam sebuah kerajaan dan rakyatnya di Arcapada. Lahirnya kembali Sitawaka sebagai titisan Betari Sri dan kemudian dinobatkan menjadi seorang ratu di sebuah kerajaan Matswapati mendapatkan berbagai permasalahan yang mengakibatkan terjadinya perang antara pengawal Sitawaka dan para pasukan butho yang hendak menyarang daerah Nuswantara. Sebagai pertahanan untuk melawan para pasukan butho pasukan Sitawaka di bekali ilmu bela diri pencak silat, gerak-gerak pencak silat tersebut berpijak pada salah satu pencak silat yang ada di Palembang tepatnya di daerah Sebalik yaitu silat kuntau sebalik. Gerak tersebut kemudian menjadi pijakan gerak dasar pada karya ini dengan berfokus pada posisi kuda-kuda, sikap dan gerak, serta langkah 5 pancer. Sosok Sitawaka yang tegas sebagai seorang pemimpin akan ditransformasikan kedalam tubuh sebagai instrument tari dan disajikan dalam bentuk koreografi kelompok dengan Sebelas penari terdiri dari tujuh penari perempuan dan empat penari laki-laki. Pemilihan jenis kelamin yang berbeda sebagai pembeda antara pasukan butho dan pasukan Sitawaka. Tujuh penari perempuan merupakan prajururit yang dibawa Sitawaka, sedangkan Lima penari laki-laki merupakan para musuh yang hendak menyerang daerah Nuswantara yang dikemas dalam sajian bentuk dramatik. Kata Kunci : Memuliakan, Kuntau Sebalik, Sitawaka

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Dosen Pembimbing: Dindin Heryadi; Erlina Pantja S.
Uncontrolled Keywords: Memuliakan, Kuntau Sebalik, Sitawaka
Subjects: Tari > Penciptaan Tari
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Penciptaan)
Depositing User: samiyati SM samiyati
Date Deposited: 26 Jul 2018 03:35
Last Modified: 26 Jul 2018 03:35
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/3489

Actions (login required)

View Item View Item