Mengembangkan Musik Liturgi Khas Indonesia

Mardalena Pasaribu, Rianti and Christinus, Kristiyanto (editor) (2015) Mengembangkan Musik Liturgi Khas Indonesia. Kanisius, Yogyakarta. ISBN 978-979-21-xxxx-x

[img]
Preview
Image
Cover.jpg

Download (143kB) | Preview
[img] Text
Mengembangkan Musik Liturgi Khas Indonesia_ISI_1510.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB) | Request a copy
[img] Text
Pages from Mengembangkan Musik Liturgi Khas Indonesia_ISI_1510.pdf

Download (435kB)
Official URL: http://lib.isi.ac.id/

Abstract

Karl-Edmund Prier tiba di Indonesia pertama kali tahun 1964. Ia datang ke Indonesia setelah proses pergumulan yang panjang dan berliku. Semua berawal dari tahun 1960 semasa Karl-Edmund Prier menempuh studi filsafat di Munchen. Saat itu, Pater Karl Fank, SJ berkata kepadanya bahwa dibutuhkan misionaris Yesuit dari Jerman untuk pergi ke Indonesia. Menanggapi tawaran ini, Karl- Edmund Prier merasa bimbang. Ia sebenarnya memiliki impian bertugas di daerah orang Eskimo yang beriklim dingin. Menjadi misionaris di Indonesia benar-benar tidak pernah dibayangkan olehnya. Ditambah lagi Indonesia adalah negeri tropis yang asing bagi Prier, berbeda jauh dengan impiannya. Perlu waktu dua tahun bagi Prier untuk bergumul dengan tawaran panggilan misi ke Indonesia. Akhirnya pada tahun 1962 ketika studi filsafatnya berakhir, ia memutuskan untuk mencoba tawaran tersebut. Prier mengajukan diri kepada provinsial Serikat Jesus di Jerman untuk berangkat ke Indonesia dan provinsial segera menyetujuinya. Setelah itu, Prier segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Indonesia. Namun ternyata pengajuan visanya ditolak oleh pemerintah Indonesia. Prier harus menunggu dua tahun sampai pada tahun 1964 pengajuan visanya dan ia bisa berangkat ke Indonesia. Sepertinya penantian memang sudah menjadi bagian hidup dari Karl-Edmund Prier. Setelah sampai di Indonesia, ia ditugaskan untuk belajar bahasa Jawa di Wonosari selama setengah tahun. Pada awal tahun 1965, Prier menuju Yogyakarta dan berencana untuk mengambil pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta. Pendidikan teologi memang sebuah jenjang yang harus dijalani bila seseorang ingin menjadi imam. Namun rencana ini tiba-tiba berubah. Saat itu situasi sosial politik di Indonesia sedang memanas dan puncaknya terjadi dengan adanya peristiwa Gestapu. Akibat situasi ini provinsial memberitahukan bahwa masa pendidikan teologi ditunda sampai keadaan kembali stabil dan aman. Pada tahun 1965 pula berakhir Konsili Vatikan II yang sudah berlangsung sejak tahun 1962. Konsili Vatikan II membawa berbagai hasil sebagai perubahan besar dalam tubuh Gereja Katolik di seluruh dunia. Salah satu hasil konsili adalah pembaruan musik liturgi yang disesuaikan dengan kebudayaan umat setempat. Pada tahun 1967 ketika situasi sosial politik di Indonesia kembali stabil, Karl-Edmund Prier diperbolehkan untuk mengambil pendidikan teologinya di Kentungan. Saat itu, usia Prier sudah 29 tahun. Akibat penundaan masa studi teologi, Karl-Edmund Prier justru mendapat kuliah teologi baru dari Konsili Vatikan II. Sebab, Romo Tom Jacobs, SJ dan Romo Hardowiryono, SJ baru saja pulang dari Roma untuk belajar mengenai teologi baru hasil konsili. Kuliah teologi baru ini banyak memberi inspirasi dan membentuk pemikiran Prier, karena di dalamnya juga dibahas mengenai inkulturasi liturgi. Prier mulai terpanggil untuk berkarya di bidang inkulturasi musik liturgi. Ia memohon kepada provinsial supaya kelak ditugaskan di bidang inkulturasi musik liturgi. Setelah ditahbiskan menjadi imam pada 18 Desember 1969, Prier ditugaskan sebagai pastor kategorial untuk merintis inkulturasi musik liturgi di Indonesia. Romo Prier bersama sahabatnya, Paul Widyawan bekerja keras merintis Pusat Musik Liturgi Yogyakarta untuk menangani musik Gereja secara profesional dan menciptakan lagu-lagu liturgi baru khas Indonesia. Pada 11 Juli 1971 Pusat Musik Liturgi berdiri sebagai karya baru Yesuit di Yogyakarta. Sosok Romo Prier sebagai pemimpin PML benar-benar mengagumkan. Romo Prier selalu tekun dan bekerja keras untuk mengembangkan inkulturasi musik liturgi bersama PML. Prinsip kemandiriannya yang kuat patut diteladani. Sejak PML berdiri, Romo Prier tidak pernah menunggu dan mengharap bantuan dana dari pihak luar bagi perkembangan PML. Ia selalu mengajari stafnya untuk bisa hidup mandiri. Caranya adalah dengan memproduksi buku-buku liturgi serta rekaman lagu inkulturasi untuk dijual, mengadakan kursus organ, penataran musik Gereja, dan lain-lain. Bagi Romo Prier kemandirian adalah prinsip utama, tidak masalah jika harus hidup secara sederhana. Romo Prier juga seorang pribadi yang disiplin dalam bekerja. Di bawah kepemimpinannya sejak tahun 1971, PML telah berkembang pesat dengan berbagai program yang konstruktif dan konsisten di bidang inkulturasi musik liturgi. Karya-karya PML sangat bermanfaat bagi umat Katolik di Indonesia khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. PML telah menerbitkan berbagai buku mengenai inkulturasi musik liturgi, buku-buku pelajaran musik, buku-buku lagu daerah Indonesia, dan masih banyak lagi. Sebagian besar dari buku-buku tersebut adalah tulisan Romo Prier. PML juga memproduksi berbagai kaset dan CD rekaman lagu-lagu inkulturasi liturgi dan lagu daerah sebagai kerja sama dengan paduan suara Vocalista Sonora pimpinan Paul Widyawan. Selain kegiatan produksi, PML juga menyelenggarakan Kursus Musik Gereja dan berbagai penataran untuk pengembangan musik Gereja. Romo Prier dengan karya-karyanya bersama PML Yogyakarta sejak tahun 1971 benar-benar layak untuk diteladani dan dihormati. Ia datang sebagai misionaris asing dari Jerman pada tahun 1964. Indonesia yang semula adalah negeri tropis yang tidak dikenalnya, perlahan mulai dicintainya. Dalam benaknya, Indonesia adalah negeri yang penuh dengan kekayaan budaya yang berbeda-beda, namun bersatu seperti bunga rampai yang indah. Bersama PML, Romo Prier telah berkeliling Indonesia, mengadakan berbagai lokakarya komposisi musik liturgi, menggali keindahan Indonesia, dan merangkumnya menjadi karya-karya nyata yang bermanfaat bagi orang banyak. Dari berbagai lokakarya komposisi pula, lahir buku Madah Bakti yang sudah begitu dekat di hati umat Katolik di Indonesia. Buku Madah Bakti sejatinya juga mencerminkan semangat Bhineka Tunggal Ika. Romo Prier tidak pernah letih berkarya sesuai dengan panggilan hidupnya di bidang inkulturasi musik liturgi. Bersama PML Yogyakarta, ia berusaha melayani sesama sesuai teladan Kristus sebagai pemimpin dan pelayan sejati bagi umat manusia.

Item Type: Book
Uncontrolled Keywords: musik, liturgi
Subjects: Musik > Komposisi Musik
Musik > Penyajian musik (musik pertunjukan dan pop-jazz)
Musik > Pengkajian seni musik (musikologi dan pendidikan musik)
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Musik
Depositing User: agus tiawan AT
Date Deposited: 27 Sep 2019 07:36
Last Modified: 27 Sep 2019 07:37
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/5165

Actions (login required)

View Item View Item