Na'am, Muh Fakhrihun (2016) Pertemuan antara Hindu, Cina dan Islam pada ornamen Masjid dan Makam Mantingan Jepara. Doctoral thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Text
Disertasi_Muh_Fakhrihun_Na'am.pdf Restricted to Repository staff only Download (8MB) |
|
Text
Bab I Muh fakhrihun Na'am.pdf Download (947kB) |
|
Text
Bab VII Penutup Muh. Fakhrihun Na'am.pdf Download (381kB) |
Abstract
Ornamen pada Masjid dan Makam Mantingan adalah salah satu fakta kontekstual, sampai sekarang masih memiliki fungsi dan nilai penting. Masjid dan Makam tersebut merupakan peninggalan Islam awal di Jawa. Penelitian ini berusaha menjawab permasalahan: 1) Bagaimana peran Ratu Kalinyamat terhadap keberadaan ornamen, 2) Bagaimana bentuk, fungsi, dan makna simbolik ornamen, dan 3) Mengapa ornamen memiliki unsur perpaduan akulturatif bernuansa bergaya seni Hindu, Cina, dan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan multidisiplin untuk mengetahui secara mendalam tentang struktur dan bentuk, fungsi, dan makna simbolik yang terdapat pada seni ornamen. Kajian utama terhadap ornamen menggunakan teori Semiotika Denotatif-Konotatif dari Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) Peran Ratu Kalinyamat terhadap penciptaan ornamen pada kompleks Masjid dan Makam Mantingan adalah sebagai penggagas atau konseptor dengan pelaksana Tjie Wie Gwan (Patih Sungging Badardawung) dan atas nasihat Sunan Kalijaga. 2) Ornamen-ornamen yang ada di kompleks Masjid dan Makam Mantingan memiliki bentuk yang bervariasi berupa bentuk lingkaran (mendalion) dengan motif makhluk hidup (organis) maupun geometris, persegi empat, persegi enam dengan kurung kurawal, juga bentuk kelelawar yang serupa dengan huruf “W”. Masing-masing ornamen memiliki fungsi estetis, sosial, serta simbolik yang terkait dengan falsafah kehidupan. Makna simbolik yang dimunculkan oleh ornamen-ornamen ini meliputi maknamakna yang bersifat religious, filosofis, dan kebatinan (tasawuf). 3) Akultuasi dalam ornamen terjadi setelah masuknya agama Islam ke Jawa pada awal abad XV-XVIII. Pelarangan penggambaran makhluk hidup mulai diberlakukan karena dianggap menyekutukan Tuhan. Pelarangan ini tidak serta merta menghilangkan pengaruh dari kepercayaan lainnya seperti Hindu, Budha, dan Cina, sehingga memunculkan akulturasi budaya yang sudah ada dengan ajaran yang baru. Dari penelitian ini direkomendasikan perlu adanya pengkajian terhadap ornamen tradisional dengan menggunakan metode-metode yang dipertanggungjawabkan. Demikian perlu mengembangkan metodologi yang tepat dalam menganalisis produk-produk budaya semacam ornamen tradisional.
Item Type: | Thesis (Doctoral) | ||||||
---|---|---|---|---|---|---|---|
Creators: |
|
||||||
Contributors: |
|
||||||
Department: | KODEPRODI91001#Penciptaan dan Pengkajian Seni | ||||||
Uncontrolled Keywords: | ornamen Masjid dan makam Mantingan, denotatif - konotatif, akulturasi | ||||||
Subjects: | Penciptaan dan pengkajian seni | ||||||
Divisions: | Pascasarjana > S3 Penciptaan dan Pengkajian seni | ||||||
Depositing User: | Ida ID Sriwahjudewi | ||||||
Date Deposited: | 10 Apr 2023 06:07 | ||||||
Last Modified: | 10 Apr 2023 06:07 | ||||||
URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/14006 |
Actions (login required)
View Item |