Sita Marharini, Silvista (2000) Fungsi Tari Mandapan Dalam Upacara Adat Perkawinan Daerah Pesisir Kalianda Lampung. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (9MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (29MB) | Request a copy |
Abstract
Kalianda merupakan ibukota Kabupaten Lampung Selatan memiliki salah satu upacara adat yang masih tetap dijaga keberadaanya, yaitu upacara adat perkawinan. Upacara perkawinan yang ada di Kalianda melibatkan kerabat keluarga inti (batih) keluarga luas dengan dipimpin penyimmbang (kepala adat). Upacara adat perkawinan daerah pesisir Kalianda khususnya para keturunan bangsawan setiap upacara adat perkawinan harus melaksanakan acara Kuruk. Kuruk mengandung arti yaitu pembersihan diri bagi pengantin agar dapat diterima secara adat oleh kedua mempelai dan pemberian gelar. Setiap acara kuruk diiringi dengan tari Mandapan yang dibawakan bujang-gadis yang belun menikah putera-puteri anak penyimbang (kepala adat) dan para keturunan bangsawan di lingkungan Ka1ianda. Tari Mandapan merupakan tarian adat yang hanya ada daerah pesisir Kalianda di lingkungan bangsawan dan keturunannya. Tari Mandapan berfungsi untuk mengiringi pengantin yang akan melakukan acara kuruk. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, penelitian ini mengupas fungsi tari Mandapan bagi masyarakat Lampung yang beradat saibatin, khususnya saibatin Kalianda. Tari Mandapan masih dipakai pada upacara adat perkawinan karena masih adanya homogenitas masyarakatnya terutama hal legitimasi sebagai pendorong utama keberadaanya. Asal-usul kesenian tari Mandapan merupakan warisan turun-temurun dari keturunan saibatin di Kalianda. Mengingat prinsip hidup masyarakat Lampung Pi'il Pesenggiri (harga diri) maka masyarakat adat saibatin. khususnya Kalitunda yang masih keturunan bangsawan berusaha keras untuk melestarikan dan mengadakan upacara perkawinan dengan diadakan acara Kuruk diiringi tari Mandapan. Kehadiran tari Mandapan dalam upacara adat perkawinan selalu dikaitkan dan berhubungan dengan acara kuruk yaitu turun duwai. (pembersihan diri) dan pemberian gelar. Dengan adanya dorongan yang kuat dari masyarakat keturunan bangsawan untuk mewujudkan tradisi pemberian gelar bagi para keturunan bangsawan, maka kedudukan dari fungsi akan terpelihara. Hadirnya seni pertunjukan tari Mandapan dalam upacara adat perkawinan bukan hanya sekedar pengiring pengantin yang akan melakukan acara kuruk melainkan mengadung makna didalamnya yaitu sebagai syahnya upacara adat perkawinan dan sarana mempertemukan jodoh bagi penari.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Tari Mandapan, Upacara adat perkawinan, Daerah pesisir, Kalianda Lampung | |||||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | |||||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | |||||||||
| Date Deposited: | 24 Jul 2026 01:59 | |||||||||
| Last Modified: | 24 Jul 2026 03:11 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24549 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
