Sandur Dalam Sistem Religi Masyarakat Dusun Randuopak, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban

Setyo Palupi, Agrin (2004) Sandur Dalam Sistem Religi Masyarakat Dusun Randuopak, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[img] Text
Bab I.pdf

Download (8MB)
[img] Text
Bab IV.pdf

Download (1MB)
[img] Text
Full Teks.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (35MB) | Request a copy
Official URL: http://lib.isi.ac.id

Abstract

Sandur Ronggo Budoyo merupakan satu-satunya kesenian Sandur yang masih ada dan berkembang sampai sekarang di Dusun Randupokak, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Dalam pementasan. Sandur terdapat dua alur cerita yang berbeda. Pertama, dalam pementasannya Sandur menyajikan cerita tentang kisah seorang anak petani yang sedang mencari pekerjaan. Di sini Sandur mempunyai fungsi sebagai seni hiburan dengan peran sosial dalam bidang pertanian yang dapat dilihat melalui tembang. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan contoh pada semua penonton mengenai bagaimana seharusnya mengolah sawah atau tanah yang baik sebelum ditanami. Kedua, dalam alur ceritanya Sandur mengisahkan tentang gambaran kehidupan manusia dari lahir hingga mati yang diwujudkan dalam setiap adegan. Di sini Sandur berfungsi sebagai seni ritual. Dimaksud seni ritual karena dalam pementasannya selalu menyangkut peran keagamaan yang dimiliki oleh kesenian Sandur itu sendiri. Sebagai seni ritual, Sandur menunjuk pada beberapa syarat seperti : empat penari Sandur adalah hocah angon yang masih suci, melaksanakan ritual nyetri di tempat-tempat yang dianggap sakral ( Goa Gembul, Sendhang Baru, Terang Asem, Jati Teken, Karang Gambir, dan Bekti Harjo ), melaksankan pentas sebanyak 44 kali yang disertai dengan sesaji, mempercayai adanya bidadari yang berjumlah 100 yang turun untuk memberi perlindungan terhadap pementasan kesenian Sandur. Bidadari yang berjumlah 100 tersebut merupakan kalimah Allah yang dihubungkan dengan nama-nama suci Allah (Asma 'ul Husna) yang berjumlah 100. Hal tersebut dimaksudkan untuk misi penyebarluasan ajaran keagamaan yaitu Islam. Meskipun jaman telah berubah, namun keberadaan kesenian Sandur di Randupokak masih sangat diakui oleh masyarakatnya. Apapun yang terjadi, mereka akan tetap bangga terhadap kesenian ini, karena kesenian ini merupakan identitas mereka sebagai masyarakat Randupokak. Sebuah pendapat mengatakan bahwa kesenian Sandur ini di ciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk mengislamkan masyarakat Tuban pada saat itu.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Creators:
CreatorsNIM/NIP/NIDN/NIDK/NUPTK
Setyo Palupi, Agrinnim9910890011
Contributors:
ContributionContributorsNIDN/NIDK/NUPTK/NIM/NIP
ContributorNyoman Sudewi, Ninidn0015085806
UNSPECIFIEDPudjasworo, Bambangnidn0009095701
Department: KODEPRODI91231#SENITARI
Uncontrolled Keywords: Sandur, Sistem religi masyarakat, Dusun Randuopak
Subjects: Tari > Pengkajian Tari
Divisions: Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian)
Depositing User: susilo SW wati
Date Deposited: 27 Jul 2026 04:43
Last Modified: 27 Jul 2026 04:43
URI: http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24649

Actions (login required)

View Item View Item