Retno Purnawati, Agustin (1998) Kehadiran Wayang Wong Menak di Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber kecamatan Dukun kabupaten Magelang. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (8MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (23MB) | Request a copy |
Abstract
Wayang wong menak yang ada di dusun Tutup Ngisor desa Sumber kecamatan Dukun kabupaten Magelang, merupakan kesenian yang jarang dipentaskan dan keberadaanya hanya sedikit yang mengetahui latar belakang sejarah tentang wayang wong menak tersebut. Wayang wong menak yang ada di dusun Tutup Ngisor ini sudah ada sejak sekitar tahun 1955. Seluruh kesenian yang ada di dusun Tutup Ngisor berpusat di padepokan kesenian yang semula dirintis oleh Bapak Yoso Sudarmo bernama "Cipta Budaya". Padepokan tersebut berdiri pada tahun 1937, kini padepokan kesenian Cipta Budaya tetap melanjutkan tradisi kebudayaannya yang dikelola oleh tujuh putra almarhum Bapak Yoso Sudarmo. Dalam penulisan ini metode yang digunakan adalah metode diskriptif analisis, sedangkan pendekatannya yaitu pendekatan historis dan sosiologis. Digunakannya metode dalam penulisan ini agar diperoleh kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan. Wayang wong menak di dusun Tutup Ngisor adalah salah satu bentuk drama tari yang merupakan personifikasi dari wayang golek menak, dilakukan oleh para penari putra dan putri dengan lakon dari Serat Menak, yaitu mengenai kehidupan Amir Hamzah. Dilihat dari bentuk penyajiannya tari ini bergaya tari Surakarta dan tari Yogyakarta, namun karena berada di pedesaan maka hasil garapan pola tarinya disesuaikan dengan potensi penduduknya yang serba sederhana, sehingga penggarapannya berbeda dengan gaya tari Surakarta dan tari Yogyakarta. Fungsi wayang wong menak sebagai hiburan dan sebagai perayaan syukur kepada Tuhan YME atas karunia dan apa yang diberikan-Nya kepada masyarakat dusun Tutup Ngisor. Tujuan wayang wong menak adalah berpijak dari alur cerita yang tidak memperbolehkan adanya cerita mematikan musuh. Nilai-nilai yang tersirat dalam alur cerita wayang wong menak tersebut adalah kedamaian, kesuburan dan supaya masyarakat tidak memiliki rasa permusuhan serta dendam terhadap sesama masyarakat. Perkembangan pertunjukan wayang wong menak ditinjau dari gerak tarinya sampai sekarang tidak mengalami perkembangan yang mencolok. Gerakan-gerakannya masih mengacu pada gerak tari gaya Surakarta dan Yogyakarta, dipadu dengan gerakan tari yang khas dari dusun tersebut. Apabila ada perkembangan dalam pementasan hal itu dikarenakan adanya keinginan untuk tampil dengan baik, perkembangan itu hanya terjadi pada citra lahiriah. Dalam pementasannya wayang wong menak merupakan campuran dari kesenian Wayang Wong, Wayang kulit dan Ketoprak.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Wayang Wong Menak, Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber kecamatan Dukun kabupaten Magelang | |||||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | |||||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | |||||||||
| Date Deposited: | 27 Jul 2026 08:29 | |||||||||
| Last Modified: | 27 Jul 2026 08:30 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24678 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
