Tri Susilo Raharjo, Agung (1997) Persepsi Masyarakat Terhadap Lengger Tapeng Dalam Nawung Gati di Dusun Plono Timur Pagerharjo Samigaluh Kulon Progo. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (12MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (43MB) | Request a copy |
Abstract
Lengger Tapeng sebagai suatu bentuk seni pertunjukan, merupakan karya seni yang mencerminkan identitas masyarakat penghasil karya seni tersebut. Lengger Tapeng yang ada dan berkembang di lingkungan masyarakat dusun Plono Timur kelangsungan hidupnya rnenjadi tanggung jawab seluruh warga masyarakat yang memilikinya. Pada awalnya Lengger Tapeng berfungsi sebagai sarana upacara Nawung Gati atau pelepasan nazar yang diadakan pada saat ada warga dusun tersebut ingin memenuhi janjinya. Masyarakat desa kebanyakan rnasih banyak yang mempercayai adanya kekuatan-kekuatan alam di luar kekuasaan manusia yang selalu menguasai alam kehidupan selama hidup di dunia. Hal tersebut menyebabkan Lengger Tapeng sampai saat ini rnasih tetap dipentaskan dalam Nawung Gati. Namun demikian kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat gaib . makin lama makin menipis, bahkan hanya menjadi suatu hal yang dilakukan dengan sekedar untuk menghorrnati atau bertenggang rasa . Hal-hal tersebut di atas bisa terjadi karena beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah pendidikan dan agama. Kedua faktor itu menyebabkan perkembangan pengetahuan , intelektualitas dan pendapat-pendapat kurang mendukung terhadap keberadaan Lengger Tapeng. Lajunya perkembangan jarnan akan merubah pola pikir dan tingkah laku masyarakat dusun sehingga persepsi masyarakat terhadap Lengger Tapeng sebagai keseniannya bukan lagi berdasar pada hal-hal yang bersifat gaib, akan tetapi lebih mengarah pada hal-hal yang dapat diterima oleh rasio. Lengger Tapeng pada awalnya hanya dipentaskan pada saat upacara Nawung Gati tetapi saat ini masih tetap diperlukan untuk melengkapi upacara Nawung Gati dan kehadirannya lebih merupakan hiburan atau tontonan. Hal ini terlihat pada saat Lengger Tapeng tidak hanya ada pada upacara Nawung Gati, tetapi sifat yang sekuler pun telah muncul saat Lengger Tapeng dipentaskan untuk acara-acara lain. Sebagian masyarakat menganggap Lengger Tapeng utamanya bukan lagi sebagai sarana upacara Nawung Gati, akan tetapi dipersepsikan sebagai hiburan atau tontonan. Hal ini masih merupakan pertanda baik di tengah arus modernisasi yang melanda desa-desa, masih ada yang mengupayakan seni tradisionalnya untuk tetap hidup dan dilestarikan.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Persepsi masyarakat, Lengger Tapeng, Nawung Gati di Dusun Plono Timur | |||||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | |||||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | |||||||||
| Date Deposited: | 28 Jul 2026 04:18 | |||||||||
| Last Modified: | 28 Jul 2026 04:18 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24730 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
