Suharyanto, Agus (1999) Latar Belakang Fungsi Kesenian Barongan di Kudus Sebagai Sarana Upacara Ruwatan. Skripsi thesis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
|
Text
Bab I.pdf Download (7MB) |
|
|
Text
Bab IV.pdf Download (4MB) |
|
|
Text
Full Teks.pdf Restricted to Repository staff only Download (65MB) | Request a copy |
Abstract
Kesenian Barongan di Kudus adalah suatu tarian bertopeng yang disajikan dalam bentuk dramatari rakyat bertopeng atau fragmen. Cerita yang disajikan tidak tetap, selain mengambil cerita rakyat setempat dengan lakon-Iakon seperti cerita Menak, Panji, Babad Tanah Jawa dan sebagainya, dan dalam perkembangan selanjutnya mengalami perubahan menjadi sandiwara rakyat tak bertopeng (ketoprak), juga cerita rakyat bertutur yang dilakukan oleh Pentul tentang tokoh-tokoh dalam kesenian Barongan, seperti: Pentul, Tembem, Singabarong, Celeng, Bondet dan Gendruwon Kembar. Tema cerita rakyat bertutur yang disajikan adalah tentang kelahiran, asal-usul dan penaklukan Singabarong oleh Pentul dan Tembem . Cerita ini dipertunjukkan dalam dramatari rakyat topeng bertutur. Sandiwara rakyat (ketoprak) dan dramatari rakyat bertutur ini bisa menjadi bagian pertama dalam kesenian. Barongan sebagai seni pertunjukan dan hiburan bagi masyarakat. Bagian kedua merupakan inti dari kesenian Barongan di Kudus sebagai sarana upacara ruwatan yang disajikan dalam dramatari rakyat topeng bertutur. Cerita yang harus disajikan adalah lakon Murwakala yaitu pembuangan, penghapusan dan pembersihan sengkala dari Bathara Kala Gelap Sayuta ( Singabarong ) dengan memberikan sesaji khusus sebagai penebusnya melalui perantaraan Kaki dan Nini Legeyek (Pentul dan Tembel) . Bila berfungsi sebagai seni pertunjukan hiburan dan tontonan bagi masyarakat, bagian pertama yang dihadirkan. Sedangkan apabila berfungsi sebagai sarana upacara ruwatan, bagian kedua yang dihadirkan dan bagian pertama disajikan. Upacara ruwatan adalah suatu upacara yang diselenggarakan untuk meruwat, membersihkan, melepaskan dan menghapuskan sengkala yang menimpa manusia beserta keluarganya dari ancaman (catu makanan) Bathara Kala dengan sesaji khusus sebagai penebusnya. manusia yang tertimpa musibah, malapetaka, sengkala dan menjadi catu nakanan Bathara Kala dinamakan wong sukerta/sukreta. Kesenian Barongan sebagai sarana upacara ruwatan diselenggarakan pada saat terjadinya peralihan dari suatu siklus perputaran hidup nanusia. Seperti kelahiran manusia yang merupakan peralihan dari alam rahim ke alam dunia, peralihan dari masa kanak-kanak kemasa remaja yang ditandai dengan diselenggarakannya sunatan/khitanan dan peralihan , dari masa remaja ke masa dewasa yang ditandai dengan perkawinan. Pada ketiga masa peralihan tersebut, masyarakat Jawa nenyelenggarakan upacara ruwatan. karena nanusia yang mengalami peralihan masa pada siklus perputaran hidup. disebut wong sukerta/ sukreta.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
||||||
| Contributors: |
|
||||||
| Department: | KODEPRODI91231#SENITARI | ||||||
| Uncontrolled Keywords: | Fungsi kesenian, Barongan, Kudus, Sarana Upacara Ruwatan | ||||||
| Subjects: | Tari > Pengkajian Tari | ||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Tari > Seni Tari (Pengkajian) | ||||||
| Depositing User: | susilo SW wati | ||||||
| Date Deposited: | 30 Jul 2026 07:29 | ||||||
| Last Modified: | 30 Jul 2026 07:29 | ||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/24957 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
