Farha, Tri (2026) Filosofi Nggusu Waru dalam Tari Lenggo Siwe di Bima Nusa Tenggara Barat. Skripsi thesis, ISI Yogyakarta.
|
Text
TRI FARHA_2026_FULL TEXT.pdf Restricted to Repository staff only Download (5MB) | Request a copy |
|
|
Text
TRI FARHA_2026_BAB I.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
TRI FARHA_2026_BAB V.pdf Download (455kB) |
|
|
Text
PERSETUJUAN PUBLIKASI.pdf Restricted to Repository staff only Download (603kB) | Request a copy |
Abstract
Globalisasi telah menyebabkan terjadinya perubahan pemahaman masyarakat terhadap budaya lokal, khususnya pada generasi muda yang cenderung memandang budaya lokal hanya sebagai hiburan dan simbol semata. Salah satu bukti ada pada tari Lenggo Siwe di Bima, Nusa Tenggara Barat. Tari Lenggo Siwe merupakan tari tradisional yang lahir dan berkembang di lingkungan Kesultanan Bima. Tari Lenggo Siwe mengandung nilai moral dan filosofi kehidupan masyarakat Bima sejak masa Kesultanan Bima. Di sisi lain, masyarakat Bima memiliki filosofi hidup yang dikenal dengan Nggusu Waru. Filosofi Nggusu Waru sudah menjadi syarat pedoman sebagai calon pemimpin pada masa kesultanan. Seiring perkembangan zaman, pemahaman terhadap filosofi Nggusu Waru dan tari Lenggo Siwe mulai mengalami penyempitan makna sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung tidak lagi dipahami lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di Bima, Nusa Tenggara Barat. Objek dalam penelitian ini adalah filosofi Nggusu Waru dalam tari Lenggo Siwe. Sumber data penelitian didapatkan dari ketua adat, tokoh adat, sejarahwan Bima, maestro tari Lenggo Siwe, guru serta pelaku tari Lenggo Siwe, penari tari Lenggo Siwe, serta masyarakat Bima. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan audio visual. Teknik validasi data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi Nggusu Waru terefleksi dalam unsur utama maupun unsur pendukung pada tari Lenggo Siwe. Filosofi yang terkandung dalam Nggusu Waru terdiri dari ma to’a di ruma labo rosul / ma maja labo dahu (beriman atau malu dan takut kepada Allah SWT dan Rasul), ma loa ra bade (cerdas dan bijak), ma mbani ro disa (gagah dan berani), ma mbisa ro guna / ma lembo ade (berwibawa dan karismatik), ma ndinga nggahi rawi pahu (selaras antara ucapan dan tindakan), ma taho hidi (kokoh, kuat dan amanah), ma di woha dou (bertanggung jawab), dan dou ma wara (kekayaan batin dan rohani serta kekayaan harta). Dari delapan pilar tersebut, yang paling terlihat dalam tari Lenggo Siwe adalah ma toa di ruma labo rasul/ma maja labo dahu (beriman atau malu dan takut kepada Allah SWT dan Rasul), ma mbani ro disa (gagah dan berani), ma mbisa ro guna/ma lembo ade (berwibawa dan karismatik), dan ma taho hidi (kokoh, kuat dan amanah). Filosofi tersebut mencerminkan karakter yang selalu siap dan tangguh dalam mengemban amanah/tugasnya, namun tetap mempertahankan karakternya yang anggun dan berwibawa. Karakter tersebut tidak terlepas dari iman dan ketaatannya terhadap Allah SWT. Tari Lenggo Siwe juga berperan sebagai media pelestarian budaya lokal serta sarana pendidikan non-formal bagi generasi muda di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang berkembang.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Creators: |
|
|||||||||
| Contributors: |
|
|||||||||
| Department: | KODEPRODI88209#PENDIDIKAN SENI PERTUNJUKAN | |||||||||
| Uncontrolled Keywords: | Filosofi Nggusu Waru, Tari Lenggo Siwe, Budaya Bima | |||||||||
| Subjects: | Pendidikan Seni Pertunjukan | |||||||||
| Divisions: | Fakultas Seni Pertunjukan > Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan | |||||||||
| Depositing User: | Tri Farha | |||||||||
| Date Deposited: | 18 Jun 2026 04:29 | |||||||||
| Last Modified: | 18 Jun 2026 04:29 | |||||||||
| URI: | http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/23328 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
